Malang (beritajatim.com) – Tugas akhir perkuliahan tidak selalu berupa ujian tulis atau lisan. Ada cara lain yang bisa dilakukan misalnya dengan mengadakan suatu acara dengan skala besar. Hal itu yang dilakukan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Islam Malang (PBSI Unisma) yang tergabung menggelar workshop sebagai pemenuhan mata kuliah keprotokolan.
Acara yang mengusung tema ‘Menulis Biografi Tokoh’ itu menghadirkan Alberthiene Endah Kusumawardhani yang merupakan penulis dan jurnalis nasional. Ketua pelaksana kegiatan, Syifak, menjelaskan bahwa acara tersebut ini dilaksanakan sebagai luaran dari mata kuliah praktik keprotokolan dan jurnalistik primer.
“Mahasiswa yang saat ini menjalani semester 7 di PBSI Unisma mengadakan acara ini sebagai luaran dari mata kuliah,” jelasnya.
Workshop tersebut bertempat di perpustakaan pusat Unisma pada Sabtu 14 Januari 2023 lalu. Ketua pelaksana menambahkan, melalui workshop tersebut diharapkan dapat menambah keberanian mahasiswa untuk mencoba menulis biografi tokoh.

“Diharapkan mahasiswa, utamanya mahasiswa PBSI Unisma berani menulis. Terlebih lagi menulis biografi tokoh,” jelasnya saat dimintai keterangan pada Senin (16/01/2023).
Sementara itu, keterangan dari seksi acara, Ines Choirun Nisa acara tersebut sebagai ruang diskusi dan pemecahan masalah terkait isu kesulitan menulis biografi.
“Kami datangkan ahlinya untuk juga memberi tips dan trik menulis biografi dimulai dari mana. ini juga sebagai output dari mata kuliah keprotokolan jadi pelaksananya panitia angkatan 19, 20,21,” jelas Innes, sapaannya.
Dia berharap diadakannya acara ini agar dapat diaplikasikan mahasiswa di kehidupan nyatam “Menulis, terutama menulis biografi Bisa digunakan sebagai ladang cuan,” tutupnya.

Saat acara, Alberthiene Endah memaparkan kiat-kiat yang membawa dirinya mampu menjadi seorang penulis biografi terkenal. “Menulis biografi seutuhnya adalah pekerjaan hati yang modalnya berupa kepekaan. Jika kita ingin belajar menulis biografi, maka kita harus mampu melihat diri sendiri karena menulis biografi dapat diibaratkan juga menulis makna kehidupan,” jelas penulis yang sudah melahirkan 58 karya itu.
Ada tiga elemen agar bisa menjadi penulis biografi mumpuni. Diantaranya pertama harus berusaha mendapatkan peluang dengan menyamakan persepsi dari setiap buku yang ditulis, dan mampu membuat orang yang terpuruk menjadi bangkit.
[berita-terkait number=”4″ tag=”unisma”]
“Kedua, dengan memakai teknik wawancara material. Atau mencari informasi tentang tokoh sebelum melakukan wawancara kepada tokoh yang dimaksud. Ketiga memakai teknik penulisan perubahan hidup per 10 tahun sekali,” jelasnya saat mengisi workshop.
Alberthiene, sapaannya, percaya jika sekolah (kuliah) akan mempengaruhi kesuksesan seseorang. Dia berharap pada mahasiswa agar percaya diri sehingga mampu menghasilkan karya.
“Harus selalu diingat bahwa diri kita memiliki hal yang luar biasa. Jadi jangan pernah melihat diri kita kecil, jangan pernah merasa diri kita tidak mampu,” katanya menutup. [dan/but]





