Bojonegoro (beritajatim.com) – Tragedi tenggelamnya mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) saat menjalankan program Kuliah Kerja Nyata–Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) di Maluku Tenggara meninggalkan duka mendalam, khususnya bagi keluarga Bagus Adi Prayoga, mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM angkatan 2022 asal Dusun Ngembul, Desa Butoh, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro.
Bagus dinyatakan meninggal dunia setelah perahu yang ditumpanginya terbalik akibat gelombang tinggi di perairan Debut, Maluku Tenggara. Menurut informasi yang diterima keluarga, jenazah Bagus dijadwalkan tiba di Bandara Internasional Juanda Surabaya pada Selasa (2/7/2025) pukul 17.00 WIB, sebelum dibawa ke rumah duka dan diperkirakan tiba sekitar pukul 20.00 WIB.
“Keluarga saat ini hanya bisa menunggu. Proses pemakaman juga telah disiapkan,” kata Kepala Dusun Ngembul, Sugianto, Selasa (2/7/2025).
Bagus dikenal sebagai pemuda yang aktif, ramah, serta mudah bergaul dengan warga sekitar. Ia merupakan anak pertama pasangan Lasman dan Santi, serta selalu menunjukkan sikap sopan kepada orang tua di lingkungannya.
Berdasarkan kronologi, peristiwa nahas tersebut terjadi pada Selasa (1/7/2025) saat tujuh mahasiswa KKN-PPM UGM bersama lima warga lokal melakukan penyeberangan menggunakan dua speedboat dari Pulau Wahru usai mengambil pasir untuk proyek Revitalisasi Terumbu Karang dengan metode Artificial Patch Reef (APR). Sekitar pukul 15.28 WIT, salah satu perahu terbalik dihantam gelombang tinggi disertai angin kencang.
Dalam insiden tersebut, lima mahasiswa berhasil selamat, dua mahasiswa dinyatakan meninggal dunia, dan tiga korban lainnya sempat mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit setempat. Kabar duka ini menambah daftar risiko keselamatan yang dihadapi mahasiswa saat melaksanakan program pengabdian masyarakat di wilayah kepulauan dengan kondisi alam yang sulit diprediksi. [lus/beq]






