Surabaya (beritajatim.com) – Paparan panas matahari dan beban kendaraan berlebih seringkali menyebabkan kerusakan pada jalan aspal serta mengurangi kemampuan jalan untuk menahan beban.
Menanggapi masalah ini, mahasiswa Departemen Teknik Infrastruktur Sipil (DTIS) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memanfaatkan limbah filter rokok untuk mengurangi dampak kerusakan pada jalan aspal.
Dalam penelitian tugas akhir, Kornelius Sofinner Ndruru memanfaatkan selulosa asetat tinggi pada filter rokok untuk membuat polimer yang dicampurkan dengan aspal.
Penambahan polimer ini berfungsi sebagai bahan pengikat antara aspal dan agregat, serta membantu memperkuat campuran aspal. “Filter rokok dipilih karena kandungan selulosa asetatnya dan ketersediaannya yang melimpah,” jelas Kornel, Kamis (5/9/2024).
Proses penerapan melibatkan beberapa langkah sebelum filter rokok dicampurkan dengan agregat. Pertama, filter rokok dibersihkan dan dikeringkan untuk menghilangkan bakteri dan air, serta menutup rongga pada filter. Tahap ini membuat filter menjadi lebih padat dan kuat.
Selanjutnya, filter rokok yang sudah kering dilapisi dengan aspal dalam proses enkapsulasi, di mana Kornel menggunakan 20 persen aspal dari berat filter rokok. “Enkapsulasi berfungsi untuk menutup rongga pada filter rokok,” tambahnya.
Setelah proses enkapsulasi selesai, filter rokok yang telah dilapisi aspal dicampurkan dengan aspal dan agregat lain untuk membuat campuran jalan aspal.
Kornel menekankan pentingnya takaran filter rokok yang tepat untuk memastikan kualitas jalan aspal. “Karakteristik filter rokok yang berongga mempengaruhi jumlah aspal yang diperlukan,” kata Kornel.
Dalam penelitian tugas akhirnya berjudul ‘Analisis Pengaruh Penggunaan Limbah Filter Rokok Enkapsulasi sebagai Campuran Aspal HRS-WC terhadap Nilai Stabilitas Marshall’, Kornel melakukan pengujian enkapsulasi dengan delapan variasi jumlah filter rokok dan dua metode berbeda. “Pengujian ini bertujuan untuk menemukan persentase filter rokok yang optimal untuk kinerja campuran aspal,” ujarnya.
Variasi persentase filter rokok yang diuji adalah 0,625 persen, 1,25 persen, 2,5 persen, dan 5 persen dari total berat campuran aspal. Setiap persentase filter rokok dienkapsulasi dengan aspal sesuai dengan kadar aspal optimum (KAO). Hasil pengujian menunjukkan bahwa persentase 0,625 persen memberikan hasil terbaik dalam hal stabilitas campuran aspal.
Kornel menyimpulkan bahwa penambahan filter rokok harus dilakukan dengan hati-hati. Karakteristik berongga filter rokok dapat menyebabkan penyerapan aspal yang berlebihan, yang dapat meningkatkan biaya dan menyebabkan kerugian.
Kornel berharap penelitian ini dapat mengurangi dampak limbah filter rokok dan menjadi acuan dalam menentukan kadar aspal dalam proses enkapsulasi. “Saya berharap penelitian ini bisa berkembang ke tahap yang lebih tinggi,” tutup Kornel. [ipl/kun]






