Malang (beritajatim.com) – Empat mahasiswa dari Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB) membuat inovasi baru bernama LAGA GEMPA (Lampu Siap Siaga Gempa). Alat ini dapat digunakan untuk sistem peringatan dini otomatis di daerah zona gempa.
Tim ini diketuai oleh Yusuf Yuaniar berasal dari departemen Teknik Elektro dengan anggota Cyril
Wahyu Dwi Anugrah (Teknik Elektro), M. Fajar Arif (Teknik Elektro), dan Deca Melani (Perencanaan Wilayah dan Kota). Mereka berhasil memberikan gebrakan baru dalam pemberian peringatan pertama sebelum terjadinya gempa bumi.
Menurut Yusuf Yuaniar temuannya dapat membantu masyarakat agar menyelamatkan diri lebih cepat dari bahaya gempa bumi. Dengan bunyi alarm yang menjangkau dua sampai tiga kamar tidur, alat ini dapat memberikan peringatan 30 detik sebelum terjadinya gempa bumi.
Baca Juga: SMP Negeri 2 Pasean Terbakar Diduga Akibat Putung Rokok
“Dengan begitu, korban jiwa akibat bencana gempa bumi itu dapat dikurangi. Inovasi kami ini diikutsertakan dalam Program Kreativitas Mahasiswa yakni Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) yang diselenggarakan oleh Kemdikbud Ristek,” katanya melalui WhatsApp, Selasa 26 September 2023.
Inovasi ini berhasil mendapatkan pendanaan dan saat ini sedang dalam tahap pemasaran penjualan produk LAGA GEMPA. Alat ini dipasarkan melalui instansi pendidikan, rumah kos, dan daerah rawan gempa bumi.
“Lokasi tersebut memerlukan sebuah peringatan pertama guna mitigasi bencana gempa bumi. Alat ini sudah menjamah di daerah Kota Malang, Cianjur, Jogja, Aceh, Probolinggo dan sekitarnya. Tak hanya itu, alat ini juga dipesan langsung oleh tenaga pendidik asal United Kingdom (UK) sebagai perbandingan alat yang kompeten dalam mitigasi bencana gempa bumi,” ujar Yusuf.
Baca Juga: PKS Soroti Pengajuan Kuota PPPK oleh Pemkab Jember
Yusuf menambahkan, alat yang dibuat timnya ini dibanderol 400 ribu Rupiah untuk satu lampu. Keunggulannya antara lain dapat mendeteksi gempa bumi mulai dari getaran rendah, menengah hingga getaran tinggi yang disertai oleh bunyi alarm yang berbeda-beda.
Selain itu, alat ini juga bisa digunakan sebagai lampu tidur dengan warna warm white. Lampu pendeteksi gempa ini didesain berbentuk prisma trapesium dapat menambah estetika ruangan.
“Lampunya memakai baterai Li-ion 18650 yang dapat diisi ulang dayanya ketika habis, sehingga dapat menghemat biaya untuk baterai. Berdaya
Baca Juga: Tiba di China, Sananta Siap Tampil Lawan Uzbekistan
13.000mAh yang dapat menyala seharian penuh dan dapat diisi ulang dayanya selama delapan jam,” ujar mahasiswa elektro FT UB ini mengakhiri. (dan/ian)






