Malang (beritajatim.com) – Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Brawijaya (UB) berhasil menemukan potensi mengubah limbah cangkang tiram sebagai bahan baterai kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV). Temuan dari mahasiswa ini diberi nama Crossta Baterry.
Tim ini beranggotakan Ahmad Multazam Abdan, Ahmad Syarwani, Izza Lailatul Kasanah, Zainurrohman Prastomo, Uray Keisya Ranaputri yang dibimbing oleh Prof. Akhmad Sabarudin, M.Sc., Dr.Sc. Mereka melakukan riset pada kandungan kalsium oksida pada cangkang tiram sebagai bahan baku baterai.
Ketua tim, Ahmad Multazam menjelaskan, baterai dari cangkang tiram merupakan salah satu sumber energi masa depan yang banyak digunakan sebagai sumber energi kendaraan listrik. Penelitian mereka mendapat pendanaan dari Kemendikbud Ristek dan UB lewat Program Kreativitas Mahasiswa bidang riset eksakta.
“Baterai yang beredar dan dipakai saat ini, misalnya baterai Lithium atau baterai Nickel-Metal Hydride (Ni-MH), tak banyak ditemukan di bumi dan butuh biaya yang tinggi untuk memanfaatkannya,” ujar Multazam melalui keterangan tertulis, Selasa (24/10/2023).
BACA JUGA:
Doktor Mengabdi UB Malang Bersama UMKM Trenggalek Produksi Kopi Jahe Merah Celup
Dari hasil pengamatan tim, Indonesia masih perlu mengimpor unsur baterai dari China. Hal itu yang membuat biaya produksi jadi membengkak.
Dijelaskan bahwa kalsium adalah mineral paling banyak jumlahnya di tubuh hewan dan manusia. Kalsium bermanfaat dan melimpah di lingkungan sekitar. Salah satu pemanfaatan kalsium sebagai bahan baku elektroda baterai untuk produksi baterai kalsium.

“Baterai kalsium mudah diisi ulang sehingga berpotensi besar untuk perkembangan teknologi bidang energi di masa depan. Baterai kalsium mengandung bahan baku melimpah dan biaya produksinya lebih rendah daripada baterai jenis lain,” lanjut ketua tim.
Baterai kalsium (Ca-Ion) adalah inovasi penyimpanan daya yang berbahan utama kalsium. Kalsium lebih mudah ditemukan keberadaannya di alam sehingga harga baterai kalsium lebih murah daripada jenis baterai lain.
“Melalui riset ini kami melakukan proses pengujian pada sintesis kalsium oksida cangkang tiram yang sudah dilakukan kalsinasi memakai beberapa instrumen seperti, FTIR, AAS, Powder XRD, dan SEM EDX, dilanjutkan dengan hasil uji kelistrikan memakai RLC Meter,” lanjut ketua tim riset Crossta Baterry.
BACA JUGA:
UB Malang Kembali Kukuhkan 4 Guru Besar Baru Lintas Disiplin
Melalui pengujian menunjukkan bahwa CaO hasil kalsinasi 800°C berpotensi untuk dilanjutkan ke pengujian efektivitas baterai. Meski begitu, riset ini masih pada tahap pengembangan dan memerlukan banyak evaluasi untuk menghasilkan bahan baku alternatif baterai yang efektif efisien.
Namun, tim dari FMIPA UB berharap riset ini dapat terus optimal dan dikembangkan lebih lanjut. Dia berharap timnya bisa tembus PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) untuk mewakili UB.
“Saat ini kami masih dilakukan pengembangan yang lebih baik. Semoga bisa menjadi riset berguna dan diterapkan secara luas di dunia industri terkhususnya untuk baterai kendaraan listrik,” tutupnya. [dan/beq]






