Jember (beritajatim.com) – Tim Program Penguatan Kapasitas Badan Eksekutif Mahasiswa (PPK BEM) Fakultas Farmasi Universitas Jember membangun rumah tanaman obat keluarga (toga) di lereng sebuah bukit, di Desa Curahnongko, Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Rumah toga itu bernama Bagas Waras yang dimaksudkan menjadi kawasan konservasi tanaman obat keluarga berbasis edukasi dan kesehatan. “Program ini adalah program penguatan kapasitas organisasi kemahasiswaan yang didanai Direktorat Belmawa Dikti (Pembelajaran dan Kemahasiswaan Pendidikan Tinggi) setelah melewati seleksi nasional,” kata Wakil Dekan Kemahasiswaan Fakultas Farmasi Dian Agung Pangaribowo, ditulis Minggu (1/10/2023).
Rumah Toga Bagas Waras diresmikan kemarin. “Selain mendirikan rumah toga, mahasiswa juga mendata dan memetakan tanaman-tanaman obat yang berkhasiat di Desa Cuerahnongko, sehingga nanti dihasilkan peta diversitas tanaman,” kata Agung.
Mahasiswa memberdayakan masyarakat melalui pembuatan produk-produk makanan yang diharapkan jadi sumber peningkatan ekonomi keluarga. Salah satunya adalah kue brownies dengan bahan dasar tepung kedawung dan jamu berbahan dasar tanaman obat. “Harapannya jamu ini bisa dikembangkan dan dijual di kafe jamu di Desa Curahnongko,” kata Agung.
Berdasarkan hasil kurasi dan pemetaan mahasiswa, di Curah Nongko banyak ditemui tanaman pohon kedawung dan trembesi. “Jumlah tanaman kecilnya sekitar 50-an tanaman,” kata Ketua Tim PPK Camelia Puspita Firdausy.
Beberapa tanaman yang sudah dipetakan antara lain kedawung yang bermanfaat untuk menyembuhkan batuk, radang usus, penyakit pencernaan, kolera, dan menjadi antibakteri jahat; kluwek bermanfaat untuk kekebalan tubuh, mencegah asam urat dan penyakit kardiovaskular.
Ada jelatang yang bermanfaat untuk hemostatik dan stimulan sirkulasi darah saat penyembuhan luka; tapak liman untuk penyembuhan disentri, malaria; dan pecut kuda yang berkhasiat untuk menurunkan demam, radang tenggorokan, penyembuhan luka, keputihan, dan pengobatan hepatitis A. Buah pokak untuk pengobatan diabetes dan menekan pertumbuhan sel kanker.
Kehadiran rumah toga diharapkan Camelia bisa mengubah kebiasaan masyarakat yang mengonsumsi obat kimia pabrik saat sakit. “Back to nature untuk memanfaatkan tanaman obat yang ada di desanya sendiri,” kata Camelia.
Saat ini belum semua tanaman obat diinkubasi di Rumah Toga Bagas Waras. “Karena masih kemarau, kami masih menginkubasi umbi-umbian saja, seperti umbi dewa, bangle, dan tanaman-tanaman yang tak rawan saat terkena panas. Tapi setelah masuk musim hujan akan ditanam, dari 50 tanaman hasil pemetaan itu, masing-masing akan ditanam di rumah toga sebagai cerminan tanaman obat di Curah Nongko,” kata Camelia.
Merawat tanaman obat tersebut, Camelia dan kawan-kawan membentuk kelompok konservasi yang melibatkan warga desa, termasuk ibu rumah tangga dan anak muda. “Jadi nanti mereka akan mengelola rumah toga sendiri, membuat produk, dan mengidentifikasi pemetaan sendiri. Mereka terbagi dalam job desk masing-masing,” katanya. [wir]






