Gresik (beritajatim.com)- Perlintasan Kereta Api Indonesia (KAI) di Jalan Raya Cerme Lor, Kabupaten Gresik, kembali menjadi sorotan. Pasalnya, perlintasan tersebut kerap kali menimbulkan kemacetan parah, dan antrean mengular setiap pagi dan sore hari.
Saat palang pintu kereta api tertutup, kemacetan panjang tak bisa dihindari. Ini karena kendaraan yang melintas mengular ratusan meter karena kondisi jalan menyempit sewaktu mendekati rel kereta api.
Penyempitan tersebut diduga menjadi biang kemacetan. Kendaraan yang melaju dua arah. Ditambah truk bermuatan tonase besar membuat kondisi semakin semrawut.
Ismanto (56) salah satu warga Kecamatan Cerme mengaku kemacetan di jalan tersebut sudah menjadi rutinitas sehari-hari.
“Macetnya terjadi di pagi dan sore hari. Ini belum saat ada kereta api melintas otomatis mengular,” ujarnya, Kamis (12/2/2026).
Keluhan yang sama juga disampaikan oleh Januar (33). Dirinya menilai kondisi jalan saat ini sudah tidak sebanding dengan volume kendaraan yang melintas mengingat Jalan Raya Gresik merupakan jalan provinsi. Banyak lalu lalang pekerja maupun kendaraan industri yang melintas.
“Sekarang kendaraan makin banyak. Jalan di sekitar rel terasa sempit, jadi arus dua arah saling berebut. Truk besar bikin makin macet,” urainya.
Ia berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera mengambil langkah konkret, seperti pelebaran jalan atau pembangunan flyover untuk mengurai kemacetan yang sudah bertahun-tahun terjadi.
Menurut Januar, keberadaan Tol Krian–Bunder belum efektif mengurangi kepadatan dari arah Bunder menuju Menganti.
“Tol mahal, keluarnya sebelum perlintasan. Seharusnya bisa tembus ke wilayah Boboh atau Domas Kecamatan Menganti Gresik supaya arus tidak numpuk di sini,” paparnya.
Warga berharap ada evaluasi menyeluruh terhadap perlintasan KAI Cerme yang sudah bertahun-tahun belum ada solusinya.
“Semoga ada solusi. Sebab, sudah bertahun-tahun saya selalu kena macet di sini. Pasti warga lain juga merasakan,” pungkasnya. dny






