Surabaya (beritajatim.com) — Mahasiswa Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) UIN Sunan Ampel Surabaya melaksanakan kunjungan ke kantor Beritajatim.com untuk mempelajari praktik kerja media online, perkembangan teknologi informasi, serta tantangan industri media di era digital. Dalam kunjungan tersebut, Pak Teddy dan Pak Ainur Rohim dari pihak Beritajatim memberikan penjelasan langsung mengenai bagaimana media digital bekerja dan bertahan di tengah persaingan.
Prinsip Jurnalistik Tetap Menjadi Fondasi
Di awal sesi, Pak Teddy menjelaskan bahwa meskipun teknologi media berkembang pesat, prinsip dasar jurnalistik tetap tidak berubah. Mahasiswa PKL dituntut memahami proses produksi berita dari awal hingga akhir.
“Dalam beberapa hari, kalian harus bisa mencari berita, wawancara, menulis, dan menyunting. Yang penting, berita itu tidak hanya dari satu narasumber. Harus digali dari berbagai sumber,” jelasnya.
Ia juga menuturkan bahwa Beritajatim mengembangkan berbagai bentuk konten termasuk podcast bertema rasan-rasan hingga pembahasan isu politik regional, terutama saat momentum pemilu.
Menanggapi pertanyaan mahasiswa, Pak Teddy menyebutkan bahwa Beritajatim berfokus pada pemberitaan wilayah Jawa Timur, meskipun Surabaya tetap menjadi pusat aktivitas redaksi. Reporter juga ditempatkan di berbagai daerah untuk memantau isu-isu lokal secara langsung.
Pak Ainur Rohim kemudian menjelaskan perjalanan media online sejak berdirinya Beritajatim. Ia menekankan bahwa membangun media kini lebih mudah karena teknologi semakin maju, tetapi mempertahankan media adalah tantangan yang berat.
“Media online tidak mengenal hari libur. Tahun baru pun kami tetap bekerja. Konsistensi ini yang membuat pembaca bertahan selama puluhan tahun,” ujarnya.
Beritajatim mencatat rata-rata 50.000 pengguna per hari, didominasi oleh pembaca melalui perangkat pribadi.
Tantangan Industri Media
Menurut Pak Ainur Rohim, media digital saat ini menghadapi dua tantangan besar:
1. Tekanan politik dan kepentingan kekuasaan, yang memengaruhi ekosistem media.
2. Kompetisi dengan platform global seperti TikTok, X (Twitter), dan Instagram.
Selain itu, kondisi bisnis media dalam beberapa tahun terakhir cenderung stagnan. Pendapatan terbesar masih berasal dari kerja sama perusahaan, instansi pemerintah, serta sektor industri. Beritajatim juga memperluas bisnis melalui Event Organizer (EO) dan konsultan komunikasi.
Menjawab pertanyaan mengenai AI dan perubahan perilaku pembaca muda, Pak Teddy menjelaskan bahwa Beritajatim memilih beradaptasi dengan teknologi alih-alih melawannya.
“Kami menyesuaikan konten dengan kebutuhan pasar muda. Data usia pembaca dan wilayah selalu kami cek. Transparansi itu penting, karena data viewer tidak boleh dimanipulasi,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa redaksi memantau peristiwa melalui trending topic X dan Google Trends, terutama untuk isu-isu besar di Jawa Timur.
Keterampilan yang Dibutuhkan di Dunia Media
Dalam sesi diskusi, Pak Ainur Rohim menjelaskan bahwa mahasiswa yang ingin terjun ke dunia media perlu memahami:
● Manajemen kerja redaksi
● Aspek bisnis media, termasuk iklan dan kerja sama
● Ritme kerja media yang tidak linier
● Produksi konten cepat dengan banyak angle
“Dunia media memang keras. Tapi kalau sudah menjadi passion, kalian akan bisa menjalaninya,” ungkapnya.
Pak Teddy juga menekankan pentingnya membangun relasi, di akhir ia mengatakan “satu musuh terlalu banyak, seribu kawan masih kurang.”
Beritajatim berharap kondisi ekonomi ke depan semakin stabil agar industri media dapat lebih berkembang. Mahasiswa juga diharapkan tidak pesimis dan terus mengasah kemampuan jurnalistik sebagai bekal memasuki dunia kerja. [Pranata]






