Trenggalek (beritajatim.com)– Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama sejumlah instansi terkait bergerak cepat menangani longsor besar yang menutup akses jalan penghubung Trenggalek–Ponorogo.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menegaskan upaya pemulihan jalur terus dilakukan secara intensif dengan target rute dapat kembali dilalui dalam dua hari ke depan.
Emil mengatakan seluruh unsur pemerintah dan lembaga terkait telah bekerja sejak awal kejadian tanpa menunda penanganan.
Koordinasi dilakukan lintas instansi untuk memastikan proses evakuasi material longsor serta pemulihan jalur berlangsung secepat mungkin namun tetap aman.
“Satu hal yang pasti, seluruh insan pemerintahan, dari Kementerian PU, BNPB/BPBD, Basarnas, Pemprov dan Pemkab, kepolisian dan TNI, serta pakar/akademisi (geologi ITS) sejak kejadian telah dan terus bekerja tanpa menunda-nunda dengan target dua hari ke depan bisa memulihkan rute dengan tetap menerapkan kehati-hatian,” ujar Emil, Kamis (5/3/2026).
Longsor yang terjadi di jalur strategis tersebut berdampak langsung pada aktivitas transportasi, terutama bagi para sopir truk yang biasa melintas dari wilayah Blitar dan Tulungagung menuju Ponorogo. Akibat tertutupnya jalan, kendaraan angkutan barang terpaksa memutar melalui jalur alternatif yang jauh lebih panjang yaitu melewati Nganjuk.
Menurut Emil, kondisi ini sangat memberatkan para pengemudi truk karena biaya operasional meningkat drastis. Ia pun menyampaikan keprihatinannya terhadap para sopir yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas distribusi barang di jalur tersebut.
“Kasihan saudara-saudara kita yang menjadi sopir truk rute Blitar atau Tulungagung ke arah Ponorogo. Jalan alternatif untuk truk muatan sedang hanya melalui Nganjuk, dan sudah pasti ongkos yang disepakati tidak menutup biaya. Tidak bisa lewat berarti mereka tidak bisa membawa nafkah kepada keluarga,” katanya.
Emil juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas terganggunya akses transportasi akibat longsor berskala besar tersebut. Ia menjelaskan kejadian seperti ini sudah hampir satu dekade tidak terjadi di kawasan tersebut.
“Kamipun menyampaikan permohonan maaf karena longsor ini berskala sangat besar, dan sudah hampir satu dekade tidak terjadi,” ujarnya.
Meski demikian, Emil menilai keberadaan dinding penahan tanah di Kilometer 16 ruas Trenggalek–Ponorogo yang dibangun oleh Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR pada 2017–2018 terbukti membantu mengurangi dampak kerusakan.
Saat proyek tersebut dikerjakan, Emil masih menjabat sebagai Bupati Trenggalek dan ikut mengoordinasikan pembangunan bersama Mochamad Nur Arifin.
Ia menjelaskan, konstruksi penahan tersebut berhasil menahan dampak longsor sehingga kerusakan jalan tidak semakin parah.
“Dinding penahan di Km 16 yang dibangun Ditjen Bina Marga pada 2017–2018 efektif mengurangi secara signifikan daya rusak longsor, sehingga jalan tidak mengalami amblas yang lebih fatal,” tutur Emil.
Saat ini, tim gabungan terus melakukan pembersihan material longsor dan evaluasi kondisi lereng guna memastikan jalur tersebut aman dilalui kembali oleh kendaraan. Pemerintah berharap akses vital tersebut dapat segera pulih sehingga aktivitas ekonomi masyarakat kembali normal. (ted)






