Bondowoso (beritajatim.com) – BPBD Bondowoso melaporkan kejadian tanah longsor yang terjadi di Dusun Timur Cora, Desa Gubrih, Kecamatan Wringin, Kabupaten Bondowoso, pada Jumat (20/2/2026) pukul 23.00 WIB. Longsor dipicu hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut.
Laporan kejadian diterima BPBD pada Sabtu (21/2/2026) pukul 10.25 WIB melalui pesan WhatsApp. Setelah menerima laporan, tim BPBD langsung bergerak menuju lokasi untuk melakukan asesmen.
Kalaksa BPBD Bondowoso, Kristianto Putro Prasojo, menyampaikan bahwa tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. “Namun, longsor mengakibatkan kerusakan pada sejumlah fasilitas umum dan infrastruktur warga,” ungkapnya, Sabtu siang.
Di Dusun Timur Cora RT 01 RW 01, satu bangunan sekolah PAUD mengalami longsor di bagian belakang. Material tanah yang longsor menyebabkan bangunan toilet sekolah mengalami penurunan dan retak. Longsoran tanah tersebut memiliki ukuran panjang 11 meter, lebar 1,5 meter, dan tinggi 4 meter.
Selain itu, akibat luapan air hujan yang menggerus pondasi, kondisi bangunan yang berada di tepi tebing dinilai membahayakan keselamatan siswa.
Kepala Desa Gubrih, Abdul Bari, mengungkapkan bahwa beruntung saat kejadian tidak ada aktivitas belajar mengajar karena hari libur. Ia berencana segera berkoordinasi dengan pengelola PAUD sebelum kegiatan sekolah kembali berlangsung.
Di Dusun Timur Cora RT 10 RW 02, dua jembatan penghubung menuju lahan pertanian warga terputus akibat longsor dan tertimpa pohon sengon besar.
Jembatan pertama memiliki panjang 20 meter, lebar 1,5 meter, dan tinggi 3 meter. Sementara jembatan kedua memiliki panjang 12 meter, lebar 1,5 meter, dan tinggi 2,5 meter.
Kedua jembatan tersebut dibangun secara swadaya oleh masyarakat pada tahun 2022 dengan konstruksi cor semen dan alas kayu.
Putusnya jembatan ini berdampak pada akses menuju sekitar 100 hektare lahan pertanian warga. Untuk sementara, petani harus menyeberangi sungai guna mencapai lahan mereka.
Kondisi ini dinilai berbahaya, terutama saat debit air meningkat di musim hujan. Jika terjadi banjir, petani terpaksa menunda aktivitas hingga air surut karena tidak tersedia jalur alternatif.
“Kami belum bisa berbuat banyak. Jika musim penghujan sudah berkurang, kami akan menginisiasi pembangunan kembali secara swadaya,” ujar Abdul Bari. (awi/ian)






