Banyuwangi (beritajatim.com) – Warga Kelurahan Penataban, Kecamatan Giri, Banyuwangi menggelar lomba ‘unting-unting’ atau mengikat kangkung sebagai upaya mempromosikan potensi daerah yang selama ini dikenal sebagai sentra penghasil sayur kangkung.
Kegiatan yang digelar di Lapangan Penataban pada Rabu (19/11/2025) tersebut menghadirkan puluhan peserta, mayoritas ibu-ibu, serta masyarakat dari berbagai usia yang antusias menunjukkan ketangkasan mengikat kangkung dengan cepat dan rapi.
Penataban selama ini identik dengan pertanian kangkung. Tradisi unting-unting—cara mengikat kangkung sebelum dipasarkan—menjadi bagian dari keseharian petani dan menjadi kearifan lokal yang terus diwariskan. Lomba ini digelar oleh Asosiasi Lurah Indonesia (Asli) Banyuwangi untuk mendorong tiap kelurahan menggali dan menampilkan potensi khas daerahnya.
Salah satu peserta, Habibah (33), mengaku baru pertama kali mengikuti lomba tersebut. Meski sempat gugup, ia merasa terhormat bisa ikut melestarikan tradisi lokal.
“Pengalaman ini luar biasa. Bukan hanya lomba, tapi cara mengenalkan budaya unting-unting ke masyarakat luar,” ujarnya.
Lurah Penataban, Komariah, menjelaskan bahwa kegiatan ini digagas untuk mempromosikan kearifan lokal sekaligus menunjukkan identitas Penataban sebagai daerah penghasil kangkung. Ia menekankan pentingnya regenerasi agar tradisi ini tetap bertahan.
“Kami juga ingin agar anak-anak muda belajar. Agar keterampilan ini tetap hidup dan menjadi kebanggaan bersama,” ujarnya.
Ketua Asli Banyuwangi, Yuda Teguh Siswanto, menambahkan bahwa unting-unting kangkung dipilih karena mengandung nilai budaya dan edukasi yang jarang diketahui masyarakat luas. Ia menilai bahwa tradisi tersebut mencerminkan ketekunan petani yang seharusnya lebih dihargai.
“Kita sering hanya tahu beli kangkung seharga dua ribu rupiah. Padahal ada proses panjang, ada ketekunan yang harus dihargai,” pungkasnya. [alr/beq]






