Surabaya (beritajatim.com) – Kebahagian memancar pada warga Kaki Gunung Kawi di Dusun Kulon Bambang, Desa Sumberurip Kecamatan Doko Kabupaten Blitar. Pasalnya, penantian selama ini untuk memiliki masjid, terjawab sudah. Melalui donatur Laznas LMI mereka sudah bisa salat di masjid.
“Secara geografis Desa Sumberurip Kecamatan Doko berada pada ketinggian sekitar 550-900 m dari permukaan laut. Jarak menuju mushola dari pusat kota Blitar kurang lebih sekitar 45 km dengan medan yang sangat sulit dan terjal. Akses menuju mushola ini harus melewati hutan jati dengan medan terus menanjak dan berkelok. Kondisi aspal yang rusak dan bahkan jalan menuju mushola masih berupa tanah bebatuan mengakibatkan adanya genangan air disepanjang jalan saat musim hujan,” terang Sofia Dewi selaku Manajer Area Laznas LMI Kabupaten Blitar saat meninjau pembangunan masjid, Kamis (20/5/2021).
Mushola As-Salam merupakan satu-satunya mushola bagi tiga dusun yaitu Dusun Kulon Bambang, Dusun Telogo Emas dan Dusun Telogo Gentong.
“Mushola ini selain digunakan sebagai tempat melaksanakan sholat berjamaah juga digunakan sebagai TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) bagi warga setempat. Berukuran 8×5 m dengan kondisi yang memprihatinkan. Bangunan semi permanen dengan atap bangunan dari kayu yang mudah bocor saat hujan turun. Dampaknya, beberapa bagian lantai mushola ini menjadi rusak dan berlubang karena sering basah terkena air hujan. Berbagai upaya sudah dilakukan oleh warga setempat dengan menambal lantai yang berlubang dan memperbaiki atap yang bocor,” tambahnya.
Sofi, sapaan akrabnya, mengungkapkan jika dulunya mushola ini menjadi Benteng Aqidah bagi masyarakat setempat. Kecamatan Doko merupakan salah satu wilayah di Blitar yang rawan pemurtadan. Gereja Kristen dan Pura banyak berdiri megah. Bahkan beberapa memiliki Pura di halaman rumahnya.
“Mayoritas warga setempat bekerja sebagai buruh di perkebunan cengkeh atau kopi sehingga penghasilannya hanya cukup digunakan untuk memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari. Kondisi ekonomi penduduk desa yang rentan dimanfaatkan oleh sebagian pihak untuk melakukan pemurtadan pondasi akidah masyarakat. Masyarakat setempat berharap dapat merubah mushola menjadi masjid. Membangun masjid yang layak di wilayah rentan pemurtadan adalah tantangan terbesar bagi umat muslim. Selain menjadi bentuk kepedulian sesama muslim, pembangunan masjid ini dapat digunakan sebagai wadah untuk memperkokoh akidah islam bagi warga setempat,” katanya.
Alhamdulillah Laznas LMI melalui dukungan banyak Donatur dan beberapa komunitas seperti Fedblitz, A’wanul muhtadin,dan komunitas Jum’at Rohmah, membangun impian warga setempat untuk mewujudkan Masjid yang layak.
“Pada bulan Oktober 2020 dimulai dengan membangun pondasi masjid dan saat ini masih terus dilakukan proses pembangunan. Mohon doa restu dan dukungan materil maupun non materil agar proses pembangunan berjalan lancar dan sesuai dengan apa yang diharapkan. Kami masih membuka bantuan untuk menyelesaikan proses yang masih kurang 25 %, mari berkolaborasi bersama,” pungkasnya. [kun]






