Malang (beritajatim.com) – Rendahnya literasi digital di tengah masyarakat Indonesia menjadi celah subur bagi kejahatan siber berkembang. Dosen Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Aminuddin, S.Kom., M.Cs., menegaskan bahwa satu klik sembrono pada file mencurigakan, seperti undangan pernikahan berformat .apk, bisa berujung pada kebocoran data hingga kehilangan saldo rekening bank.
“Ancaman siber bukanlah isapan jempol, melainkan realitas berbahaya di era digital yang harus dipahami,” ujarnya melalui keterangan tertulis, Selasa (8/7/2025).
Sebagai Kepala Bagian Sistem Informasi dan Pendidikan Digital, Aminuddin mengungkap bahwa masih banyak masyarakat yang belum memahami cara kerja malware dan bagaimana penjahat siber memanfaatkan celah kebodohan digital pengguna awam.
Aminuddin menjelaskan bahwa banyak korban yang tidak sadar telah menginstal malware ke dalam ponselnya hanya karena mengklik file undangan digital berformat .apk. File tersebut secara otomatis memasukkan perangkat lunak jahat ke sistem Android dan merekam seluruh aktivitas pengguna.
“Begitu file diklik, malware langsung menanamkan dirinya dan bisa mencuri username, password, bahkan kode OTP perbankan. Dalam hitungan menit, saldo rekening bisa dikuras,” jelasnya.
Menurut Aminuddin, masalah utamanya bukan hanya pada teknologi berbahaya yang digunakan pelaku, tapi lebih kepada rendahnya literasi digital masyarakat. Banyak orang masih belum mampu membedakan antara file aman dan berbahaya, atau memahami risiko menggunakan WiFi publik tanpa perlindungan.
“Masih banyak masyarakat yang anggap teknologi hanya alat praktis, padahal semua aktivitas digital punya risiko. Literasi digital harus mencakup kesadaran keamanan,” tegasnya.

Ia menilai bahwa edukasi soal keamanan digital masih bersifat reaktif, muncul setelah kasus besar terjadi, bukan sebagai upaya preventif yang konsisten.
Untuk mengatasi hal ini, Aminuddin membagikan langkah-langkah sederhana namun penting. Mulai dari jangan membuka file atau tautan dari sumber yang tak dikenal, pastikan aplikasi pesan memiliki verifikasi resmi, dan hindari file dengan ekstensi asing seperti .apk, .exe, atau .bat yang bukan untuk keperluan umum.
Jika perangkat sudah terinfeksi malware, ia menyarankan untuk melakukan factory reset agar sistem benar-benar bersih. “Memang ekstrem, tapi sering kali satu-satunya cara aman untuk menghilangkan malware yang sudah masuk ke sistem root,” tambahnya.
Aminuddin menekankan bahwa peningkatan literasi digital tak bisa dibebankan hanya kepada individu. Pemerintah, institusi pendidikan, dan media massa harus mengambil peran aktif dalam menyosialisasikan keamanan digital.
“Jangan hanya fokus pada akses teknologi, tapi ajarkan cara menggunakannya secara aman. Literasi digital adalah kunci agar masyarakat tidak hanya jadi konsumen, tapi juga pengguna yang cerdas dan kritis,” tegasnya.
Ia berharap, lewat peningkatan kesadaran dan edukasi yang masif, masyarakat Indonesia bisa lebih tahan terhadap serangan siber. “Semoga masyarakat bisa memanfaatkan dunia digital dengan aman serta produktif,” tutupnya. [dan/aje]






