Ringkasan Berita:
- Plt. Bupati Ponorogo, Lisdyarita, meninjau langsung genangan air di kawasan Alun-Alun hingga Masjid Agung.
- Ditemukan tumpukan sampah yang menyumbat saluran air (drainase) akibat kebiasaan buang sampah sembarangan.
- Banyak fasilitas tempat sampah di area publik yang dilaporkan hilang.
- Ditemukan tumpukan barang rongsokan di belakang tulisan ikonik Alun-Alun yang merusak estetika kota.
- Pemkab Ponorogo menginstruksikan OPD untuk rutin menggelar kerja bakti bersama masyarakat.
Ponorogo (beritajatim.com) – Plt. Bupati Ponorogo, Lisdyarita, melakukan aksi cepat dengan menyisir kawasan Alun-Alun Ponorogo guna menindaklanjuti laporan masyarakat terkait munculnya genangan air saat hujan deras melanda pusat kota. Peninjauan lapangan yang dilakukan pada Jumat (17/4/2026) ini mengungkap fakta bahwa penyumbatan drainase oleh sampah menjadi pemicu utama luapan air di depan gedung DPRD hingga kawasan Masjid Agung.
Dalam kegiatan kerja bakti spontan tersebut, Lisdyarita menemukan tumpukan sampah sisa makanan dan aktivitas perdagangan yang menutupi lubang saluran air. Kondisi ini diperparah dengan hilangnya sejumlah fasilitas tempat sampah di kawasan alun-alun, sehingga masyarakat dan pedagang kesulitan membuang limbah pada tempatnya.
“Hari ini kita kerja bakti bersama-sama. Keliling alun-alun, karena kemarin ada laporan ke Bunda bahwa ada genangan air di depan gedung DPRD maupun Masjid Agung. Kita cek langsung, ada sumbatan,” ujar Lisdyarita di sela-sela kegiatannya.
Persoalan Sampah dan Hilangnya Fasilitas Umum
Persoalan perilaku masyarakat menjadi sorotan tajam dalam peninjauan ini. Lisdyarita menilai kebiasaan membuang sampah sembarangan, terutama oleh pengunjung dan pelaku usaha kuliner di area tersebut, merupakan kontributor terbesar macetnya aliran air. Ia menegaskan bahwa kebersihan jantung kota adalah tanggung jawab kolektif, bukan hanya tugas petugas kebersihan.
“Kadang teman-teman habis makan dan berjualan suka membuang sampah sembarangan, mulai hari ini harus buang sampah pada tempatnya,” tegasnya.
Terkait hilangnya tempat sampah, pemerintah daerah berencana melakukan pengadaan ulang namun dengan pengawasan yang lebih ketat. Lisdyarita meminta warga untuk turut menjaga aset publik tersebut agar fungsi kebersihan lingkungan tetap berjalan optimal.
“Kita cek tempat sampah banyak yang hilang. Semoga nanti kita menaruh tempat sampah tidak hilang lagi. Kalau alun-alun bersih, kan semua juga jadi nyaman,” ungkap perempuan yang akrab disapa Bunda Rita ini.
Estetika Kota dan Tumpukan Rongsokan
Selain masalah drainase, tim di lapangan juga menemukan tumpukan barang rongsokan yang disembunyikan di belakang tulisan ikonik Alun-Alun Ponorogo. Keberadaan tumpukan benda tersebut memberikan kesan kumuh pada ruang terbuka hijau yang seharusnya menjadi representasi keindahan daerah.
“Di belakang tulisan alun-alun kita menemukan tumpukan rongsokan. Kita pikir sampah, mungkin tempat pemulung mengumpulkan barang-barang rongsok. Jangan ditaruh situlah,” jelasnya.
Sebagai solusi jangka panjang, Pemkab Ponorogo akan menggerakkan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk lebih aktif melakukan edukasi dan imbauan kepada warga. Skema kerja bakti rutin akan dihidupkan kembali sebagai budaya preventif menghadapi cuaca ekstrem dan risiko banjir.
“Masing-masing OPD melakukan imbauan kerja bakti ke masyarakat sebulan sekali. Dinas nanti juga akan melakukan sebulan empat kali,” pungkas Lisdyarita.
Melalui upaya ini, Pemerintah Kabupaten Ponorogo berharap kesadaran lingkungan masyarakat meningkat sehingga fasilitas publik tetap bersih, nyaman, dan terbebas dari ancaman genangan air yang merugikan aktivitas ekonomi di pusat kota. (end/ian)






