Surabaya (beritajatim.com) – Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya terus berupaya untuk turut melestarikan budaya-budaya nasional Indonesia. Kali ini, Untag mengundang sekaligus menggelar pertunjukan wayang asal Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, yakni Wayang Potehi.
Diharapkan, dengan adanya pertunjukan seperti ini, generasi muda khususnya para mahasiswa Untag Surabaya bisa mengenal lebih jauh terkait Wayang Potehi. Terlebih mereka juga bisa ikut melestarikannya.
“Pertunjukan Wayang Potehi yang diselenggarakan oleh Fakultas Hukum ini merupakan hibah dana perguruan tinggi yang kita dapatkan. (Pagelaran Wayang Potehi) ini kita memiliki tujuan, bahwa jangan sampai budaya Indonesia khususnya Wayang Potehi dari Jombang itu hilang, atau punah,” jelas Dosen Fakultas Hukum Untag Surabaya, Abraham Ferry Rosando, Senin (9/9/2022) malam.
“Ini kita upayakan betul supaya anak-anak generasi muda yang mungkin belum mengetahui terkait dengan wayang potehi mereka bisa tahu. Syukur-syukur bisa melestarikan,” lanjutnya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”untag”]
Ferry menyampaikan, bahwa dengan menggandeng pegiat Wayang Potehi asal Gudo, Jombang ini, mereka bisa memberikan sebuah edukasi kepada masyarakat, terutama mahasiswa Untag Surabaya. Sementara pada kesempatan ini, para pegiat tersebut membawakan lakon Geger Pecinan. Dimana, menceritakan sejarah pada masa lampau terkait penjajahan VOC di Batavia.
“Sekarang kita mengenalkan, kemudian nanti ke depan kita lakukan pengabdian masyarakat, nanti kita akan inventarisasi lakon-lakon atau manuskrip wayang itu, kemudian lakukan upaya hak cipta atau copyright. Ke depan seperti itu,” terangnya.
Sementara itu, Pemilik Wayang Potehi asal Jombang, Toni Harsono menjelaskan, bahwa nama Potehi berasal dari kata ‘Pou’ yang berarti kain, ‘Te’ berarti kantong, dan ‘Hi’ artinya wayang. Sehingga, bisa diartikan jika Wayang Potehi ini adalah wayang boneka yang terbuat dari kain.
Sedangkan cara memainkannya adalah sang dalang akan memasukkan tangan mereka ke dalam kain tersebut dan memainkannya sesuai lakon yang diangkat.
“Potehi berasal dari Tiongkok, masuk di Indonesia berdasarkan penelitian tahun 1.600, sudah ada di Indonesia. Kebetulan kakek saya dalang dari Tiongkok yang datang ke Indonesia tahun 1920-an, yang datang ke Jombang bawa perlengkapan semua,” jelas Toni.
Toni menegaskan, meskipun Potehi ini berasal dari Tiongkok, namun cerita yang diangkat tidak harus identik dengan budaya Tiongkok. “Sebetulnya nggak juga. Apalagi setelah peraturan pemerintah yang mengekang orang-orang Tiongkok, dicabut Gus Dur itu kan berkembang bebas, bisa main di gereja, di pondok, dimana-mana,” ungkapnya.
Toni menambahkan, di kesenian Wayang Potehi ini tokoh-tokohnya berbeda. Kata dia, memang ada yang pakem, namun ada juga yang bisa untuk multi peran. “Potehi ini seperti teater boneka. Ada wajahnya ini bisa untuk beberapa peran, tergantung baju, dia jadi raja atau jadi jendral, menteri, atau rakyat jelata. Tergantung dari pakaiannya. Ada yang pakem, misalkan sun go kong,” jelasnya.
Toni juga mengungkapkan, bahwa pegiat Wayang Potehi di Jombang saat ini tinggal 7 orang saja. Pandemi Covid-19 menjadi salah satu penyebab semakin berkurangnya pegiat wayang ini. Bahkan, di saat pandemi banyak pegiat wayang potehi beralih menjadi pekerja pabrik.
“Pemain mungkin tinggal dikit ya. Dalang mungkin tinggal 7 orang lah, nggak banyak. Apalagi kemarin pandemi itu banyak pemain yang nganggur. Mereka kerja pabrik, jadi berkurang. Pelestarian itu menurut saya harus dipentaskan. Jadi menyangkut matapencaharian teman-teman,” tandasnya. (ipl/kun)






