Ponorogo (beritajatim.com) – Suasana Pasar Legi pada Sabtu (9/7) pagi lebih ramai dari biasanya. Hal itu dikarenakan, Hj Lebrok, warga Kelurahan Paju itu sedang membawa seluruh keluarga yang jumlahnya lebih dari 50 orang untuk jajan di pasar terbesar di Ponorogo itu.
Kegiatan mengajak seluruh keluarganya itu baru pertama kali dilakukan oleh nenek Lebrok. Itu bagian dari tradisi orang Jawa, biasa menyebutnya sebagai angon putu buyut (mengembala cucu & cicit). Tak lupa nenek yang saat ini umurnya sekitar 100 tahun itu juga membawa pecut untuk kegiatan tradisi angon putu buyut.
[berita-terkait number=”5″ tag=”tradisi”]
“Kami sebagai orang Jawa, ingin melestarikan leluhur dulu. Bilamana orang Jawa sudah memiliki cucu 25 orang, wajib diajak jajan di pasar, dengan sebutan angon putu,” kata Dirman, anak ke-7 dari nenek Lebrok, saat ditemui beritajatim.com di Pasa Legi, Sabtu (9/7/2022).
Dirman dan keluarganya lainnya sangat bersyukur, saat ibunya sudah usia senja, namun keadaanya masih sehat bahkan nenek Lebrok baru saja pulang dari perjalanan dari Jakarta.
Saya anak ketujuh, usia saya hampir 60 tahun, kakak saya usia 76 tahun. Ibu hampir 100 tahun dalam keadaan sehat dan ini baru pulang dari perjalanan Jakarta. Dia di Jakarta selama 2 bulan, kedatangannya ke Ibukota itu untuk menemui tempat cucu-cucunya.
“Pada lebaran haji ini, ibu kepingin angon putu. Makanya beliau memberitahukan kepada anak dan cucu-cucunya untuk pulang ke Ponorogo,” katanya.
Dirman menyebut ibunya, Hj Lebrok dan bapaknya Almarhum Dono Diharjo, mempunyai 9 orang anak. Dari jumlah 9 anak itu, nenek Lebrok mempunyai cucu 26 orang dan buyut atau cicit sebanyak 22 orang. Cucu pertama sudah berumur 58 tahun, dan paling muda masih seusia anak SMP.
“Kegiatan angon putu ini hanya digelar satu kali. Di pasar tadi semua cucu dan buyutnya diberi uang untuk jajan di sana. Ibuk tadi kelihatan bahagia sekali,” ungkap Dirman berkaca-kaca.
Selain untuk melestarikan adat budaya Jawa, kegiatan angon putu ini juga sebagai wujud rasa syukur. Di umurnya yang sudah tidak muda lagi, namun masih diberikan kesehatan dan badan segar. “Ibuk tadi di pasar juga jalan sambil bawa pecut mengarahkan anaknya untuk jajan. Diemong, rasa syukur si ibuk, diusianya segitu,” ungkap Dirman.
Dulu tradisi angon putu sering diadakan oleh masyarakat Jawa. Namun, saat ini sudah jarang sekali dijumpai seiring dengan jumlah anak dalam satu keluarga sekarang tidak banyak. Kebanyakan sudah mengikuti program dari Pemerintah 2 anak cukup. Mungkin ke depan tradisi itu bisa-bisa punah. [end/suf]







