Lamongan (beritajatim.com) – Usai bertemu dan uji kesaktian dengan Sunan Drajat, Raden Nur Rohmat atau Sunan Sendangduwur diutus untuk mendirikan masjid sebagai tempat ibadah bagi masyarakat di wilayah yang dulunya disebut dengan Bukit Amitunon.
Lantaran keberadaan masjid sangat dibutuhkan, Sunan Drajat mengutus Sunan Sendang untuk pergi ke Mantingan untuk membeli masjid di sana. Setibanya di Mantingan, Sunan Sendang bertemu dengan Mbok Rondo Mantingan atau Ratu Kalinyamat.
“Saat bertemu Ratu Kalinyamat itulah, Sunan Sendang lalu mengungkapkan maksud kedatangannya ke Mantingan, yakni hendak membeli masjid di Mantingan,” cerita Irfan Masyhuri, keturunan ke-13 dari Sunan Sendang, Rabu (4/1/2023).
Namun, Irfan menuturkan, keinginan Sunan Sendang itu ditolak oleh Ratu Kalinyamat. Pasalnya, masjid itu merupakan amanat dari suami Ratu Kalinyamat yang harus dijaga dan ada syarat yang harus dipenuhi jika ingin memilikinya.
“Ratu Kalinyamat bilang ‘Sepurane (mohon maaf) masjid ini tidak saya jual, tapi suami saya wasiat, siapa saja orangnya yang bisa membawa atau memboyong masjid ini sendirian tanpa dibantu siapapun, maka masjid ini bakal saya berikan. Kalau kamu bisa, maka silakan dibawa,” tutur Irfan saat menceritakan.

Mendengar hal itu, Sunan Sendang bermunajat kepada Allah dan meminta petunjuk. Setelah petunjuk didapatkan, Sunan Sendang kembali menemui Ratu Kalinyamat. Kemudian, di depan masjid itu Sunan Sendang menginjakkan kakinya sebanyak 3 kali ke tanah dengan membaca basmalah.
“Singkatnya, setelah apa yang dilakukan Sunan Sendang, tiba-tiba masjid itu dengan sendirinya terangkat dan dibawa pulang ke Bukit Amitunon. Masjid itu diletakkan di puncak bukit atau bagian tertinggi dari Bukit Amitunon ini,” terang Irfan.
[berita-terkait number=”3″ tag=”Lamongan”]
Karena prosesnya yang begitu cepat, masyarakat sekitar pun banyak yang heran. Pasalnya, dari yang sebelumnya tak ada masjid, tiba-tiba langsung ada masjid yang berdiri dalam waktu semalam saja. Oleh karenanya, kata Irfan, masyarakat sekitar menyebut masjid itu dengan “Masjid Tiban”.
Lebih lanjut, ungkap Irfan, saat perjalanan masjid dari Mantingan ke Bukit Amitunon ini, sejumlah masyarakat ada yang menyaksikannya. Bahkan, salah satu pintu dari masjid itu ada yang terjatuh di kawasan yang kini dinamakan dengan Desa Paciran.
“Konon katanya, dulu ada masyarakat yang melihat saat masjid dibawa ke sini. Akhirnya, dusunnya dinamakan Dusun Dengok, yang artinya melihat. Sedangkan pintu masjid yang jatuh itu berada di desa yang kini disebut Paciran, yang dalam Bahasa Jawa berasal dari kata Ciran, Keciciran, atau kejatuhan pintu masjid. Pintunya juga masih ada,” papar Irfan.

Masih kata Irfan, Masjid Tiban itu hingga kini masih berdiri kokoh di bukit yang kini masuk Desa Sendangduwur, Kecamatan Paciran, Lamongan. Masjid itu dinamakan dengan Masjid Nur Rohmat. Sebagian kayu-kayu yang berasal dari Mantingan itu juga masih disimpan di sebelah utara masjid.
“Masjid ini sudah direnovasi, namun bagian segi empat tiyang penyangganya masih sama seperti dulu. Beberapa kayu yang keropos diletakkan di sebalah utara masjid. Masjid ini juga masuk jadi cagar budaya Kabupaten Lamongan,” tandasnya.
Diketahui, keberadaan masjid itu hingga kini masih aktif digunakan sebagai pusat kegiatan keagamaan masyarakat setempat, meneruskan apa yang sudah diajarkan dan diwariskan oleh Sunan Sendang.
“Ajaran Sunan Sendang yang paling terkenal yakni ‘Mlakuo marang dalan kang bener, elingo marang wong kang sak burimu’ (Tempuhlah jalan kebenaran dengan tetap berpegang pada ajaran Islam, dan jangan melupakan orang di belakang kita yang membutuhlan pertolongan dan bantuan kita),” jelas Irfan. [riq/beq]






