Surabaya (beritajatim.com) — Lebaran Ketupat menjadi salah satu tradisi khas masyarakat Jawa yang masih lestari hingga kini, terutama di wilayah Jawa Timur. Perayaan ini biasanya digelar pada hari ketujuh bulan Syawal, atau sepekan setelah Hari Raya Idulfitri. Tidak sekadar menjadi momen makan bersama, Lebaran Ketupat juga sarat makna filosofis yang berkaitan dengan spiritualitas, kebersamaan, dan budaya lokal.
Menurut Ensiklopedia Islam, istilah ketupat diyakini berasal dari kata “papat” yang berarti empat, merujuk pada empat hal penting dalam kehidupan beragama, termasuk salah satunya adalah ibadah puasa Ramadan. Dalam bahasa Jawa, ketupat atau “kupat” juga dimaknai sebagai akronim dari “laku papat” atau empat tindakan utama, yaitu Lebaran, Luberan, Leburan, dan Laburan.
Lebaran dimaknai sebagai momen usai menjalankan ibadah puasa Ramadan. Luberan berarti berbagi rezeki kepada sesama, terutama kepada mereka yang membutuhkan. Leburan mengandung arti saling memaafkan untuk menghapus dosa dan kesalahan. Sementara itu, Laburan melambangkan upaya menjaga kesucian lahir dan batin setelah menjalani ibadah.
Ketupat sendiri menjadi simbol penting dalam tradisi ini. Anyaman janur yang membungkus nasi mencerminkan kerumitan kesalahan manusia, sementara isi putih di dalamnya melambangkan hati yang bersih setelah saling memaafkan. Oleh karena itu, ketupat tidak hanya sekadar makanan, tetapi juga simbol penyucian diri dan harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Di Jawa Timur, tradisi Lebaran Ketupat dirayakan dengan berbagai cara unik di tiap daerah. Umumnya, masyarakat menggelar acara makan bersama dengan hidangan utama ketupat yang disajikan bersama lauk khas seperti opor ayam dan sayur lodeh yang kaya rempah.
Di Trenggalek, Lebaran Ketupat diramaikan dengan Pawai Ta’aruf yang melibatkan masyarakat setempat. Dalam kegiatan ini, warga tidak hanya berparade, tetapi juga membagikan ketupat sayur secara gratis kepada penonton sebagai bentuk kebersamaan dan sedekah.
Sementara itu, di Gresik, tradisi ini dikenal dengan sebutan Lebaran Kauman. Perayaan ini menjadi puncak silaturahmi warga Kampung Kauman yang digelar setelah salat Magrib. Warga berkumpul, saling berkunjung, dan menikmati hidangan ketupat bersama.
Di Jember, terdapat tradisi unik bernama Pawai Pegon. Perayaan ini dilakukan dengan arak-arakan gerobak yang ditarik oleh dua ekor sapi dan dihiasi janur kuning. Setiap gerobak membawa satu keluarga beserta ketupat dan lauk pauk hasil bumi. Pawai ini biasanya berakhir di kawasan pantai, yang menjadi lokasi makan bersama antarwarga.
Berbeda lagi dengan di Madura, tradisi Lebaran Ketupat dikenal dengan istilah Tellasan Topak atau Tellasan Pettok. Tradisi ini juga dirayakan pada hari ketujuh Syawal dan menjadi simbol kemenangan bagi masyarakat yang telah menjalankan puasa Ramadan sekaligus puasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Tak heran jika tradisi ini sering disebut sebagai “Lebaran Kedua”.
Sementara di Pasuruan, perayaan Lebaran Ketupat diwarnai dengan kegiatan unik berupa lomba Skilot. Lomba ini merupakan adu cepat berselancar di atas lumpur, yang berasal dari gabungan kata “ski” dan “cellot” (lumpur). Tradisi ini menjadi daya tarik tersendiri sekaligus hiburan bagi masyarakat setempat. (fyi/aje)






