Magetan (beritajatim.com) – Para pengrajin kulit di Jalan Sawo, Magetan optimistis penjualan akan mengalami kenaikan pada momen Lebaran 2022. Salah satu alasannya, Pemerintah telah mengizinkan mudik sehingga jumlah pendatang ke Magetan akan meningkat.
Peningkatan itu diharapkan dapat bersimultan pada jumlah penjualan. Mengingat kerajinan kulit Magetan sangat diminati untuk cinderamata para pendatang.
“Penjualan mulai meningkat, kami perkirakan tidak sebanyak tahun 2019 atau tahun sebelum pandemi. Saat itu terjual sampai 3.000 pasang lebih, saat ini kemungkinan hanya 1.000 pasang. Tapi, kalau dibandingkan di tahun 2020 dan 2021, sudah ada peningkatan persen saja,’’ ungkap Budi Ridarwan Eko Patrianto, pengurus Paguyuban Pengrajin Kulit Magetan.
Eko membenarkan Jalan Sawo menjadi jujugan para wisatawan dari Sarangan. Keadaan makin terpuruk semenjak penutupan pariwisata pada Lebaran 2021.
orderan mulai sepi sehingga dia mengandalkan para pelanggan yang datang langsung ke toko.
“Namun, kenaikan di tahun ini juga berkat dilonggarkannya mudik lebaran tahun ini. Tapi kan kami akan lihat dulu untuk bagaimana saat ini kondisi keuangan para pemudik. Pulang bawa duit gak untuk beli souvenir, sehingga kami tidak menambah jumlah stok lebih dari 1.000 pasang. Masih wait and see,’’ katanya.
Meski begitu, kunjungan menang paling banyak berasal dari warga lokal saja. Padahal, yang memadati kawasan Jalan Sawo adalah para pemudik. Jelas memutar uang di kawasan Jalan Sawo. Bahkan, sampai H+10 lebaran. Namun, suasana itu tak lagi didapatkan sejak 2020 lalu.
[berita-terkait number=”3″ tag=”Magetan”]
“Kalau di tahun kemarin malah makin parah, selain wisata ditutup, kala itu juga ada larangan mudik yang berpengaruh pada omzet kami,’’ terangnya.
Dia pun sudah mengurangi sebanyak 30 orang karyawannya. Baik yang melayani pembeli maupun yang merakit sepatu. Dia pun mempersilahkan karyawannya untuk membawa pulang mesin agar bisa melayan pesanan dari toko lain untuk mendapatkan penghasilan. Lantaran dari tokonya sendiri orderan juga minim. Promosi di media sosial tidak memberikan pengaruh yang signifikan.
“Karena di masa pandemi ini, jualan lewat jejaring sosial memang dianjurkan, tapi masyarakat jadi gampang kecewa karena produk bagus dan biasa saja dijual dengan harga yang bersaing,’’ ungkapnya.
Meski begitu, kini para pengusaha UMKM kulit masih tetap berusaha bangkit. Dengan memaksimalkan orderan online. Dan hanya menjalankan sedikit dari toko offline. Sayangnya, sudah ada dua pengrajin sekaligus pengusaha yang kolaps. Sehingga, tak mungkin bisa bertahan. (fiq/beq)






