Ringkasan Berita:
- Layangan tarik produksi Ahoed DC Malang diminati pasar internasional hingga Eropa.
- Sebanyak 1.000 layangan telah dikirim ke Perancis untuk persiapan Kejuaraan Dunia Combat Kite 2027.
- Bisnis yang dirintis Lucky Maulana merupakan usaha turun-temurun sejak 1960.
- Jenis layangan Sukhoi menjadi produk paling laris karena dikenal memiliki manuver yang baik.
Malang (beritajatim.com) – Layangan tarik buatan Ahoed DC Malang berhasil menembus pasar internasional dan menjadi langganan ajang Kejuaraan Dunia Combat Kite di Perancis. Produk karya Lucky Maulana itu kini telah diterbangkan di berbagai negara, mulai dari Malaysia, Belanda, Perancis hingga Jerman.
Terbaru, sebanyak 1.000 layangan tarik telah dikirim ke Perancis untuk persiapan Kejuaraan Dunia Combat Kite yang dijadwalkan berlangsung pada 2027.
Lucky mengatakan, layangan produksinya hampir tidak pernah absen digunakan dalam kejuaraan layangan tarik tingkat dunia yang digelar di Perancis.
“Kejuaraan dunia di Perancis layangan saya tidak pernah absen. Jadi layangan ini dipesan untuk kejuaraan Combat Kite di Perancis. Awal tahun kemarin pesan 1.000 pcs untuk kejuaraan tahun depan (2027),” kata Lucky, Selasa (16/6/2026).

Bisnis layangan yang dijalankan Lucky merupakan usaha keluarga yang telah dirintis sejak 1960 oleh sang ayah di Pandaan, Kabupaten Pasuruan. Pada 1992, Lucky kemudian mengembangkan usahanya sendiri di Singosari sebelum akhirnya memiliki rumah produksi yang lebih besar di Karangploso, Kabupaten Malang.
Peluang menembus pasar luar negeri bermula ketika Lucky mengikuti turnamen layangan tarik di Bali beberapa tahun silam. Dalam ajang tersebut, ia bertemu komunitas pecinta layangan dari berbagai negara yang kemudian menjadi jaringan bisnis hingga sekarang.
Menurut Lucky, komunikasi yang terus terjalin dengan para penghobi layangan dari luar negeri membuka peluang ekspor secara rutin ke berbagai negara di Asia maupun Eropa.
“Kirim ke luar negeri awalnya ketemu sama orang luar dari Belanda, Prancis, Hongkong saat kejuaraan layangan tarik di Bali. Akhirnya komunikasi berlanjut dan melakukan pemesanan hingga hari ini,” ujarnya.
Dari berbagai model yang diproduksi, jenis layangan Sukhoi menjadi produk yang paling diminati pembeli mancanegara.
Nama Sukhoi diambil dari pesawat tempur buatan Rusia karena karakter layangan tersebut memiliki kemampuan manuver yang lincah dan stabil saat dimainkan dalam pertandingan layangan tarik.
Lucky menjual layangan Sukhoi dengan harga Rp7.000 per buah. Meski terjangkau, kualitas bahan menjadi perhatian utama agar mampu bersaing di pasar internasional.
“Paling laku dan paling diminati orang luar. Ini terbuat dari bambu petung dengan proses pengeringan 6 sampai 7 bulan. Jadi lebih awet dari segi bahan bambu yang buat kerangka,” kata Lucky.
Bambu petung yang dikeringkan selama enam hingga tujuh bulan dipilih untuk menghasilkan kerangka yang kuat, ringan, dan tahan lama. Proses tersebut menjadi salah satu keunggulan produk Ahoed DC Malang sehingga mampu memenuhi standar kompetisi layangan tarik di berbagai negara.
Keberhasilan Ahoed DC Malang menembus pasar internasional menjadi bukti bahwa produk kerajinan tradisional asal Indonesia memiliki daya saing di tingkat global. Bahkan, layangan buatan Kabupaten Malang kini rutin menjadi bagian dari ajang bergengsi Kejuaraan Dunia Combat Kite di Perancis. [luc/beq]






