Malang (beritajatim.com) – Isu keamanan data dan ancaman siber, termasuk maraknya situs judi online (judol) yang menyusup ke jaringan pendidikan, menjadi perhatian serius saat ini. Menjawab tantangan tersebut, Universitas Brawijaya (UB) membuat gebrakan baru dengan meluncurkan Pamugas, sebuah Web Application Firewall (WAF) mandiri yang dirancang untuk melindungi aset digital perguruan tinggi.
Peluncuran ini dilakukan bersamaan dengan gelaran workshop bergengsi bertajuk Cybersecurity Resiliency in Higher Education Institutions yang diadakan di Ijen Suites Resort & Convention Hotel, Malang, pada 14-15 November. Bekerja sama dengan Indonesian Research and Education Network (IDREN), acara ini menjadi momentum penting bagi UB untuk menegaskan posisi sebagai kampus yang peduli pada kedaulatan siber nasional.
Direktur Direktorat Teknologi Informasi (DTI) UB, Dr. Raden Arief Setiawan, S.T., M.T., mengungkapkan fakta menarik di balik lahirnya Pamugas. Menurutnya, inovasi ini lahir dari keresahan akan tingginya biaya berlangganan firewall buatan luar negeri.
“Inisiatif ini muncul karena kita sudah terlalu sering berganti firewall dengan biaya yang cukup tinggi. Tim UB akhirnya berupaya mengembangkan solusi keamanan siber mandiri yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan spesifik di Indonesia,” ujar Dr. Raden Arief kepada beritajatim.com, Senin (17/11/2025).
Salah satu keunggulan spesifik Pamugas yang disorot adalah kemampuannya mendeteksi dan memblokir akses negatif yang marak di Indonesia, seperti judi online.
“Contoh nyata keunggulan Pamugas adalah kemampuan firewall ini untuk melawan judi online. Kami mengajak rekan-rekan universitas lain untuk berkolaborasi. Kita tidak perlu lagi bergantung pada produk asing. Dengan kemajuan teknologi saat ini, kita mampu membuat firewall sendiri untuk kedaulatan siber nasional,” tegasnya optimis.
Acara yang didukung oleh program Globalizing UB Project di bawah Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerjasama, dan Internasionalisasi ini tidak hanya sekadar peluncuran produk.
Dibuka oleh Sekretaris Jenderal IDREN, Dr.
Achmad Basuki, S.T., M.MG., Ph.D., forum ini menjadi titik temu para pimpinan TIK perguruan tinggi, penyedia layanan internet (ISP), dan mitra industri. Tujuannya jelas: memperkuat ketahanan digital kampus di era yang serba interconnected.
Tak main-main, wawasan mengenai keamanan siber diperkaya oleh pakar internasional, antara lain:
Dr. Achmad Husni Thamrin (SOI Asia Project, Jepang): Membahas sinergi keamanan siber regional. Dr. Shankar Karuppayah (Bitranger Sdn Bhd, Malaysia): Mengupas strategi perlindungan jaringan riset dari ancaman digital. Dr. Sye Loong Keoh (University of Glasgow, Singapura): Memberikan pandangan futuristik tentang inovasi keamanan bagi Research and Education Network (REN).
Bagi Gen Z yang akrab dengan dunia digital, konsep keamanan data adalah prioritas. Dalam diskusi panel yang dipandu Dr. Raden Arief Setyawan, dibahas pentingnya koneksi IDREN sebagai “jalan tol data” yang menghubungkan kampus-kampus ke seluruh dunia dengan cepat dan aman.
Peserta juga mendapatkan ilmu daging mengenai penerapan Eduroam (satu akun Wi-Fi untuk akses di berbagai kampus dunia) dan pemanfaatan Big Data yang dipaparkan oleh Dr. Widyawan dari UGM.
Puncak acara ditutup dengan diskusi mengenai konsep Zero Trust Network sebuah prinsip keamanan siber modern yang berpedoman pada “jangan percaya siapa pun di dalam jaringan”—serta perumusan Roadmap Ketahanan Siber IDREN yang dipimpin oleh Dr. Achmad Affandi. [dan/aje]






