Malang (beritajatim.com) – Di tengah gempuran teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang kian masif, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) mengambil sikap tegas untuk memperkuat identitas kemanusiaan. Hal ini tercermin dalam puncak perayaan Dies Natalis ke-16 FIB UB, Anugerah Sabda Budaya 2025, yang digelar di Aula FIB Gedung A, Rabu (3/12/2025).
Mengusung tema “Samadya Danasmara Manunggal Rasa”, gelaran ini bukan sekadar seremoni, melainkan manifesto akademisi bahwa kebudayaan adalah benteng terakhir yang membedakan manusia dari mesin.
Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, dalam sambutannya menyoroti urgensi pelestarian budaya di era digital. Menurutnya, ketika teknologi mampu mereplikasi logika, kebudayaanlah yang menjaga orisinalitas rasa dan karsa manusia.
“Acara ini mencerminkan bahwa kampus menjadi tempat pelestarian budaya. Di era AI, budaya justru yang membedakan manusia dengan algoritma,” tegas Prof. Widodo di hadapan civitas akademika.
Lebih jauh, Rektor menekankan bahwa kebudayaan tidak hanya bernilai filosofis tetapi juga strategis secara ekonomi. Ia memaparkan data bahwa industri budaya telah menjadi kekuatan ekonomi global, menyumbang 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dunia dan membuka lebih dari 50 juta lapangan kerja.
“FIB harus mampu mendorong transformasi budaya menjadi produk inovasi dan menjadi kekuatan ekosistem kebudayaan,” imbuhnya.
Senada dengan Rektor, Dekan FIB UB, Sahiruddin, menegaskan bahwa Sabda Budaya adalah identitas Dies Natalis sekaligus ruang merawat kebudayaan Indonesia. Ia mengajak seluruh elemen untuk menyatukan rasa demi melestarikan budaya Nusantara.
“Fakultas budaya adalah tonggak untuk itu. Mari kita dukung FIB agar kita bisa berkontribusi,” ujar Sahiruddin.
Ia juga mengungkapkan langkah strategis FIB yang kini memperluas kiprahnya ke level global, salah satunya dengan kehadiran representasi FIB di China. “Ini usaha kami membawa budaya lokal ke tingkat internasional, sehingga budaya kita terdengar lebih luas,” jelasnya.
Tak hanya itu, FIB UB juga berkomitmen mendukung penguatan industri berbasis kebudayaan, termasuk peran aktif dalam mendorong Malang sebagai Kota Kreatif UNESCO.
Sebagai wujud apresiasi nyata, Anugerah Sabda Budaya 2025 diberikan kepada tiga tokoh yang dinilai konsisten mendedikasikan hidupnya untuk seni dan budaya. Para penerima anugerah tersebut adalah: Tengsoe Tjahjono (Bidang Sastra), Winarto Ekram (Bidang Seni Tradisi), Dadang Rukmana (Bidang Seni Rupa).

Ketua Pelaksana Anugerah Sabda Budaya 2025, Yohanes Padmo Adi Nugroho, S.S., M.Hum., menjelaskan bahwa pemilihan ketiga tokoh ini melalui proses panjang. Nama-nama tersebut telah lama masuk dalam radar FIB UB karena rekam jejak dan kolaborasi yang intens.
“Beliau-beliau ini sebenarnya bukanlah orang baru bagi FIB. Kami telah mengamati kiprah mereka sedari lama. Kami menilai beliau-beliau ini sungguh-sungguh memiliki keunggulan dan jelas-jelas berdampak bagi masyarakat,” terang Yohanes.
Dalam laporannya, Yohanes menganalogikan usia 16 tahun FIB UB layaknya remaja yang sedang penuh gairah cinta dan semangat. Namun, semangat tersebut harus dibarengi dengan keberanian yang terukur.
Mengutip pepatah Jawa, Yohanes berpesan, “Yen wani ojo wedi-wedi, yen wedi ojo wani-wani” (Jika berani jangan takut-takut, jika takut jangan berani-berani).
Sabda Budaya sendiri telah menjadi agenda rutin sejak 2018, dan tahun ini merupakan edisi ketujuh. Selain penganugerahan, rangkaian acara Dies Natalis ini juga dimeriahkan dengan seminar nasional, bedah buku, hingga international workshop UNESCO untuk membangun ekosistem budaya yang kuat dari kampus. (dan/but)







1 Komentar
Apa tujuan utama FIB Universitas Brawijaya dalam menghadapi perkembangan teknologi kecerdasan buatan? puti