Lamongan (beritajatim.com) – Lamongan menjadi kabupaten di Jawa Timur yang gemar menggelar festival. Mulai dari festival rajungan hingga festival layang-layang naga menjadi agenda tahunan yang rutin diselenggarakan di Kota Soto.
Kali ini, giliran festival buah yang tak mau ketinggalan. Festival buah tersebut digelar di Desa Latukan, Kecamatan Karanggeneng, Kabupaten Lamongan, pada Minggu (8/10/2023).
Festival itu untuk menegaskan bahwa Lamongan tak hanya dikenal sebagai produsen padi terbesar di Jawa Timur saja, namun juga mengembangkan komoditas pangan dan holtikultura lain yang dimilikinya.
Diketahui, pengembangan klaster agribisnis di Desa Latukan ini berlangsung dengan baik. Desa Latukan juga terbilang dikenal sebagai sentra produksi buah-buahan, salah satunya adalah buah Sunrise, buah khas Latukan.
Selain buah Sunrise, Desa Latukan yang masyarakatnya mayoritas bermata pencaharian sebagai petani ini juga menghasilkan berbagai varian semangka, mulai dari semangka merah, semangka kuning, semangka inul kuning, dan varietas terbarunya yakni semangka inul merah.

Wakil Bupati Lamongan, KH. Abdul Rouf yang berkesempatan untuk membuka festival ini mengatakan bahwa festival buah ini sangat luar biasa. Menurutnya, festival ini mampu jadi ajang promosi agribisnis bagi Lamongan.
“Selain mengembangkan komoditas pangan seperti padi dan sorgum, Kabupaten Lamongan juga terus mengembangkan tanaman holtikultura. Mulai dari sayuran hingga buah-buahan, baik yang ditanam menerapkan sistem lahan sawah sampai smart farming,” tutur Wabup Rouf, Minggu (8/10/2023), di Lapangan Desa Latukan.
Dituturkan pula oleh Wabup Rouf, festival buah yang sudah ditetapkan sebagai agenda rutin tahunan Lamongan ini diharapkan mampu menjadi percontohan bagi daerah lain agar mengembangkan agribisnis. Pasalnya, agribisnis memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat.
“Festival Buah Latukan ini salah satu realisasi dari program prioritas Lumbung Pangan. Pengembangan sentra produksi yang membentuk klaster pengembangan agribisnis kuat terintegrasi dipastikan akan meningkatkan ketersediaan buah yang diproduksi sepanjang tahun, sehingga bernilai ekonomi tinggi,” terangnya.

Sementara itu, Tejo, anggota gabungan kelompok tani (Gapoktan) Desa Latukan mengatakan bahwa desanya memiliki lahan tanam semangka seluas 45 hektar dan mampu menghasilkan 1.755 ton semangka dengan provitas rata-rata 35 kwintal per hektar.
“Pada tahun ini panen kita memiliki provitas 35 kwintal per hektar untuk semangka. Sedangkan untuk varietas sunrise kita memiliki provitas 20 ton per hektar,” beber Tejo.
Masih kata Tejo, terdapat penurunan luas tanam dan luas panen pada tahun 2023 ini. Hal itu disebabkan oleh faktor peralihan tanam dari komoditas jagung. Tercatat, pada tahun 2022 luasan tanam di Desa Latukan mencapai 220 hektar dengan luas panen 100 hektar.
Lebih lanjut, tambah Tejo, penjualan buah-buahan hasil Desa Latukan mampu menembus ke pasar antar provinsi. Varietas semangka didistribusikan di Provinsi Semarang hingga Jakarta. Sedangkan untuk sunrise masih di wilayah Lamongan sendiri.
“Untuk harga semangka per kilonya dijual dengan harga Rp 4,5 ribu. Untuk buah sunrise Rp 4 ribu per kilo,” ujar Tejo.
BACA JUGA:
Komitmen Lamongan Turunkan Stunting Dapat Insentif Wapres
Sebagai informasi, festival buah Latukan ini dibuka dengan kegiatan wisata petik buah (petik, timbang, bayar), yang dilanjutkan dengan pawai budaya dan kirab hasil bumi yang diikuti oleh 15 RT di Desa Latukan.
Festival buah tersebut ditutup dengan makan buah gratis yang telah disediakan 8 gunung buah-buahan atau 10 ton buah-buahan oleh pihak panitia. [riq/but]






