Bojonegoro (beritajatim.com) – Laju perekonomian di Jawa Timur (Jatim) sedang membaik. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi di Jatim kuartal II-2022 tumbuh positif 5,74 persen dibanding kuartal II-2021. Pertumbuhan ekonomi ini tidak dihitung dari sektor pertambangan. Karena dari segi pertambangan mengalami penurunan.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak saat di Bojonegoro mengatakan, sektor perekonomian yang mengalami peningkatan signifikan diantaranya dari lapangan usaha transportasi dan pergudangan sebesar 22,21 persen. Kemudian, lapangan usaha jasa lainnya sebesar 13,07 persen, dan pengadaan listrik dan gas sebesar 9,58 persen.
“Pertumbuhan ekonomi tanpa pertambangan dan penggalian ini tertinggi di Jawa. Pemprov Jatim juga akan berusaha menangani dengan baik jika terjadi bencana agar perekonomian tetap bergerak,” ujarnya saat di Bakorwil Bojonegoro, Sabtu (12/11/2022).
Sektor lain yang juga mengalami pertumbuhan terjadi pada kategori pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 14,12 persen. Lapangan usaha industri pengolahan dan perdagangan besar-eceran, reparasi mobil dan sepeda motor yang memiliki peran dominan juga mengalami pertumbuhan masing-masing sebesar 0,05 persen dan 0,91 persen.
“Sementara itu, beberapa lapangan usaha mengalami kontraksi, diantaranya adalah pertambangan dan penggalian serta jasa pendidikan, dimana masing-masing terkontraksi sebesar 0,12 persen, dan 0,20 persen,” ujarnya.
Untuk sektor pertanian, menurut Emil, memang butuh intervensi program yang kuat. Meskipun sektor pertanian relatif baik, namun nilai tukar petani sedikit fluktuatif. “Salah satu tantangannya adalah pupuk yang bergantung dalam negara lain. Tapi kondisi ini, secara keseluruhan belum dalam kondisi panik, dan sektor pertanian tergolong baik,” jelasnya.
Untuk itu, lanjut dia, Pemprov Jatim berupaya memberikan dukungan lain, karena dalam alokasi pupuk ini pemerintah memiliki peran masing-masing. Salah satu yang bisa dilakukan Pemprov Jatim diantaranya memberikan bantuan pengolahan pupuk agar petani tidak lagi bergantung dengan pupuk yang sudah disediakan oleh pemerintah.
[berita-terkait number=”3″ tag=”ekonomi-jatim”]
Sementara diketahui, data di BPS Bojonegoro, ekonomi Kabupaten Bojonegoro tahun 2021 dibanding tahun 2020 mengalami kontraksi sebesar minus 5,54 persen. Namun jika dilihat dari PDRB non migas pertumbuhan Kabupaten Bojonegoro tumbuh sebesar 3,55 persen.
Pertumbuhan terjadi pada hampir semua lapangan usaha, namun ada beberapa lapangan usaha yang terkontraksi yaitu pertanian, kehutanan dan perikanan. Serta pertambangan dan penggalian masing-masing sebesar -1,21 persen dan -11,61 persen.
Lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan signifikan adalah transportasi dan pergudangan sebesar 9,73 persen dan lapangan usaha perdagangan besar-eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 7,34 persen.
Informasi komunikasi dan pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang juga mengalami pertumbuhan masing-masing sebesar 7,26 persen dan 6,82 persen. Sementara itu, lapangan usaha lainnya yang tumbuh tinggi di antaranya jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 5,20 persen. [lus/suf]






