Bojonegoro (beritajatim.com) – Direktur Utama Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Perkebunan Nasional (PTPN) Holding III, Abdul Ghani akan menyerahkan lahan kosong yang merupakan aset negara untuk pengembangan fasilitas umum masjid dan infrastruktur pendidikan bagi Pondok Pesantren At Tanwir Desa Talun Kecamatan Sumberrejo Kabupaten Bojonegoro.
“Tanah aset PTPN itu arahnya bisa dimiliki oleh At Tanwir. Tetapi, beberapa tahapan yang aman sesuai aturan harus dilakukan dulu, tahap pertama tanah tersebut disewakan selama 10 tahun dan bisa didirikan bangunan,” ujarnya, Jumat (2/8/2024).
Abdul Ghani saat berkunjung ke Pondok Pesantren At-Tanwir milik Nafik Sahal mendampingi Mensesneg Pratikno mengungkapkan, permintaan pengurus Pondok Pesantren At-Tanwir untuk bisa menempati lahan kosong tersebut sebelumnya sudah pernah diajukan ke PTPN pada tahun 1990. Kemudian, pengajuan kembali di tahun 2020, dan terakhir baru tahun ini dan mendapat sambutan baik.
“Luas lahannya ada sekitar 2,59 hektar tepat diseberang jalan depan Pondok Pesantren At-Tanwir. Bersama BSI yang memiliki program pengembangan pendidikan berbasis pesantren kami akan membantu meratakan tanahnya,” terangnya.
Abdul Ghani bercerita, PTPN menyerahkan lahan kosong kepada pengurus Ponpes At-Tanwir setelah mendapat informasi dari Mensesneg Pratikno. Bahwa, Ponpes At-Tanwir yang berencana melakukan pengembangan infrastruktur pendidikan terkendala kondisi bangunan yang sudah padat. Sedangkan ada lahan kosong tetapi statusnya milik negara.
“Kami kemudian berdiskusi dengan BUMN dan diarahkan Pak Pratikno hingga akhirnya sampai pada keputusan lahan yang ada di seberang jalan (depan pondok) ini akan diserahkan ke Ponpes At-Tanwir,” imbuhnya.
Untuk diketahui, dalam kunjungan Mensesneg Pratikno itu, rombongan meninjau langsung bangunan terbengkalai bekas perkebunan tembakau dan lahan kosong itu. Bangunan dari kayu tersebut sekarang kondisinya rawan roboh dan dipakai sarang kelelawar yang baunya mengganggu masyarakat setempat. Sedangkan lahan kosong itu rencananya akan dibangun fasilitas umum masjid dan infrastruktur pendidikan.
Sementara Wakil Pengasuh Pondok Pesantren At-Tanwir Ahmad Rofiq Sahal merasa bersyukur karena apa yang sebelumnya telah dicita-citakan pada pendahulu bisa terwujud. Pengajuan penggunaan lahan kosong di depan lingkungan ponpes itu sudah pernah diajukan pada pengasuh Sahal Soleh, sekitar tahun 1990. Kemudian diajukan lagi pada sekitar 2020 ini.
“Kemudian pada haul tahun ini, kami minta kepada Pak Pratikno untuk memberikan sambutan dan kami ceritakan kondisi di ponpes kami. Kemudian mendapat respon baik ini,” imbuhnya.
Setelah mendapat lahan depan pondok pesantren itu, rencana pembangunan prioritas adalah berupa masjid. Karena, masyarakat sekitar belum memiliki masjid sendiri. Selama ini masyarakat masih menjadi satu menggunakan masjid di komplek pondok pesantren. Sedangkan, dengan kondisi santri yang ada sekarang, kondisinya cukup sempit. Ada sekitar 5.000 santri dari Paud hingga Institut yang menempuh pendidikan.
“Prioritas kami adalah membangun masjid. Karena masjid yang ada di lingkungan pondok selama ini dipakai oleh masyarakat dan santri. Sedangkan kondisinya sangat sempit,” pungkasnya. [lus/suf]







