Magetan (beritajatim.com) – Komunitas kreatif Riders Palsu Magetan sukses menggelar Labuhan Rodo, sebuah perayaan budaya, perjalanan, dan ekonomi kreatif yang berlangsung selama satu hari semalam di Kampung Pinus, Sarangan, Magetan, Sabtu (14/6/2025). Acara ini menjadi momentum penting untuk mempertemukan para pecinta motor sekaligus mengenalkan potensi wisata serta pelaku UMKM lokal kepada pengunjung dari berbagai kota besar.
Ketua Panitia Labuhan Rodo, Gemilang Yoga, menjelaskan bahwa nama “Labuhan Rodo” merupakan kiasan dari perjalanan dan pertemuan yang diwujudkan melalui kendaraan bermotor. “Rodo itu kiasan untuk kendaraan bermotor. Karena dari Labuhan Rodo itu mempertemukan sesama pecinta motor,” ujarnya.
Riders Palsu sendiri adalah komunitas kolektif kreatif asal Magetan yang telah berdiri sejak 2022 dan kembali aktif dalam dua tahun terakhir. Komunitas ini berfokus pada kampanye sosial dan menjadi wadah para pelaku seni, pelaku usaha yang berfokus pada ekonomi kreatif yang masih awam di telinga masyarakat.
Lewat Labuhan Rodo, mereka ingin memlerkenalkan diri sebagai wadah potensi lokal Magetan.
“Bikin acara Labuhan Rodo, kami ingin mengangkat dan melibatkan rekan-rekan di Magetan sekaligus memperkenalkan wisata Magetan pada warga luar daerah yang berpartisipasi dalam acara Labuhan Rodo,” tambah Yoga.
Rangkaian acara meliputi riding heritage yang dimulai dari Kopi Jalan Jawa, kemudian berlanjut ke destinasi tersembunyi Sumberdodol, dan berakhir di Kampung Pinus Sarangan.
Aktivitas lainnya termasuk pop-up market yang menghadirkan lima UMKM non-F&B seperti pengrajin kulit dan tattoo artist, serta lima UMKM F&B dengan sajian khas seperti sate kelinci, ronde, dan kuliner lainnya.
Tak hanya itu, pengunjung juga dimanjakan dengan berbagai pertunjukan seni seperti live painting, serta hiburan memperkenalkan sejumlah pelaku industri musik dengan genre yang belum familiar.
Semua rangkaian acara ini terbuka. Yoga menyebut bahwa acara ini adalah bentuk nyata bahwa Magetan bukan sekadar kota yang dilalui, tetapi juga daerah dengan potensi ekonomi kreatif yang hidup.
“Orang-orang bisa mengenal Magetan lebih mendalam, nggak cuma suatu kota yang dilewati, tapi termasuk menggali potensi dan hasil kreatifitas anak mudanya. Jadi, pelaku industri kreatif bisa terwadahi. Ada juga pekerja kreatif yang terwadahi oleh Riders Palsu,” jelasnya.
Labuhan Rodo mendapat sambutan positif dari anggota komunitas serupa berbagai kota seperti Jakarta, Surabaya, Solo,beberapa wilayah di Jawa Barat. Dengan mengusung ikon wisata keluarga Sarangan, acara ini diharapkan menjadi etalase budaya yang mempererat hubungan komunitas lintas daerah. [fiq/beq]








