Kusnadi itu sebuah nama yang sangat singkat. Jabatannya mentereng: Ketua DPRD Provinsi Jawa Timur (Jatim). Sejak Oktober 2019, Kusnadi, SH, M.Hum, seorang politikus senior PDIP duduk sebagai ketua DPRD Jatim. Badan legislatif di tingkat regional Jatim tersebut baru pertama kali dipimpin seorang politikus dari PDIP.
Di periode sebelumnya, ketua DPRD Jatim selalu dipimpin politikus dari PKB: rumpun politik yang memiliki ikatan sejarah, sosiologis, psikologis, dan kultural kuat dengan ormas Islam Nahdlatul Ulama (NU).
Selain itu, politikus Partai Demokrat (PD) juga pernah memegang posisi ketua DPRD Jatim periode 2009-2014.
Hasil Pemilu 2019 menempatkan PDIP sebagai pemenang di Jatim. Itu baru pertama kali. Sebelumnya, ranah politik Jatim selalu dimenangkan PKB. PD pernah sekali menang di Pileg 2009.
Sekali pun ranah politik Jatim adalah tempat kelahiran dan pemakaman Bung Karno, pendiri PNI tahun 1927 di Kota Bandung dan ayahanda Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum DPP PDIP, partai berpaham Pancasila dengan kredo Nasionalisme Soekarnoisme ini tak mudah memenangkan kontestasi politik di Jatim.
Sejak Pemilu 1955, pemlu pertama kali Indonesia merdeka, Partai NU memenangkan pertarungan di Jatim. PNI berada di ranking kedua, tempat ketiga oleh PKI dan Partai Masyumi di posisi keempat.
Dari 6 kali Pileg di Jatim, PKB menang 3 kali (1999, 2004, 2014, dan 2024), Demokrat menang sekali (2009), dan PDIP juga menang sekali (2019).
Di era kepemimpinan Kusnadi, PDIP memenangkan kontestasi politik di Jatim. Kendati di tahun 2018, partai ini gagal menghantarkan cagub-cawagub dukungannya: Gus Ipul dan Puti Guntur Soekarnoputra, sebagai orang pertama dan kedua di Jatim.
Hasil Pileg 2019 memposisikan partai berpaham Nasionalisme Soekarnoisme ini sebagai kekuatan politik pertama dan utama di Jatim. Capaian politik itu merupakan buah kepemimpinan dan prestasi politik Kusnadi, seorang politikus kelahiran Tebing Tinggi, Sumatera Utara (Sumut) pada 7 Desember 1958.
Kusnadi, politikus senior di Jatim yang dikaruniahi 3 putra ini: Tigor Kusdita Kunong, Teddy Kusdita Kunong, dan Toni Kusdita Kunong memegang posisi sebagai orang pertama PDIP Jatim menggantikan Sirmadji Tjondropragolo, politikus PDIP Jatim yang dikenal memiliki wawasan dan pengetahuan keagamaan (Islam) bagus.
Sebelum terjun di lapangan politik praktis pasca-reformasi 1998, Kusnadi adalah seorang dosen, pendidik di Universitas 17 Agustus (Untag) 1945 Surabaya. Dia menyelesaikan program S-1 di Untag Surabaya pada 1986 dan melanjutkan pendidikan program pasca sarjana bidang hukum di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan lulus pada 1995.
Berangkat dari daerah pemilihan Jatim 1 (Surabaya dan Sidoarjo), Kusnadi telah 4 periode duduk sebagai anggota DPRD Jatim: periode 2004-2009, 2009-2014, 2014-2019, dan periode 2019-2024 dengan jabatan sebagai Ketua DPRD Jatim.
Sebagai politikus, Kusnadi konsisten menapaki tangga politik PDIP sebagai jalur politik yang ditempuhnya. Dia tak pernah pindah haluan dan mencari rumah politik lain di luar PDIP. Pejah gesang ikut PDIP.
Spirit Nasionalisme Soekarnoisme terpatri kuat di hati dan pikiran Kusnadi. Dia punya loyalitas dan militansi politik kuat dengan PDIP. Tak ada pikiran dan langkah politik sekecil pun untuk pindah dari PDIP. PDIP jadi jalan karir politik Kusnadi sampai klimaks.
Karena itu, tak heran jika Megawati Soekarnoputri sebagai ketua umum dan figur paling berpengaruh di PDIP memberikan dua kepercayaan sekaligus kepada Kusnadi: Ketua DPD PDIP Jatim dan Ketua DPRD Jatim. Kenyataan politik ini jauh hari sebelum perkara dana hibah Jatim menyeret nama Kusnadi dalam pusaran hukum di dalamnya.
Realitas tersebut merupakan satu kehormatan dan kepercayaan politik yang luar biasa kepada Kusnadi.
Maklum, di era kepemimpinan Kusnadi sebagai Ketua DPD PDIP Jatim, partai berlambang kepala banteng dengan moncong putih ini mampu memenangkan kontestasi politik Pileg 2019 di Jatim. Tugas besar lain yang mampu ditunaikan Kusnadi dengan baik adalah memenangkan pasangan Jokowi-KH Ma’ruf Amin di kontestasi Pilpres 2019.
Di samping itu, partai ini mampu menempatkan sejumlah kader terbaiknya dan tokoh yang diusungnya memenangkan pilkada di sejumlah kabupaten/kota di Jatim, seperti Kota Surabaya, Kota Blitar, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Gresik, Kota Batu, Kabupaten Malang, dan banyak daerah lainnya di Jatim.
Sederet capaian kinerja politik tersebut memposisikan Kusnadi sebagai salah satu politikus sukses di Jatim. Kusnadi jadi ‘orang kuat’ bagi kalangan Nasionalisme Soekarnoisme di provinsi ini.
Maklum, partainya, PDIP, merupakan kekuatan politik terbesar di Jatim. Padahal, Jatim sebagai teritori politik strategis secara nasional, selama bertahun-tahun dikenal sebagai kandang rumpun politik kalangan Islam Tradisional (Partai NU dan PKB).
Pertengahan Desember 2022 terjadi fenomena mengejutkan dalam perspektif hukum dan politik di Jatim. Sahat Tua Simanjuntak, Wakil Ketua DPRD Jatim dari Partai Golkar, bersama tiga orang lainnya dibekuk KPK.
Keempatnya terkena operasi tangkap tangan (OTT) KPK, lembaga antirasuah dengan trust publik yang kuat. Keempatnya dituding korupsi alokasi dana hibah yang bersumber dari APBD Jatim.
Penyelidikan dan penyidikan KPK untuk menuntaskan kasus ini bergerak ke mana-mana. Kusnadi, dalam kapasitasnya sebagai Ketua DPRD Jatim, termasuk orang yang dapat ‘perhatian khusus’ KPK. Ruang kerjanya di kantor DPRD Jatim digeledah KPK di akhir Desember 2022.
Fenomena OTT terhadap Sahat Tua dan 3 orang lainnya ternyata bisa berdampak negatif bagi langkah politik Kusnadi ke depan. Tempo sekarang menjadi masa-masa berat bagi politikus yang dikenal komunikatif ini.
Kusnadi dan sejumlah pihak lainnya yang memiliki relevansi dengan formulasi, penetapan, dan eksekusi policy hibah di Jatim mesti siap sewaktu-waktu diperiksa dan dimintai keterangan KPK. OTT KPK terhadap Sahat Tua mengakibatkan sejumlah politikus di Jatim tak bisa jenak, termasuk di antaranya Kusnadi.
Pasca puncak karir politiknya, Kusnadi mulai didera banyak problem. Perkara hukum di KPK terkait dana hibah. Kualitas kesehatannya terus menurun. Dia tak lagi terjun di ranah politik praktis. Semua itu dijalani Kusnadi dengan tenang, sabar, dan hati besar.
Pada Selasa, 16 Desember 2025 siang, sekitar pukul 14.01 WIB, Kusnadi dipanggil menghadap Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Adil. Kepulangan Kusnadi untuk selama-lamanya ke Sang Pencipta menorehkan satu catatan penting: Kusnadi figur istiqomah dalam menapaki kehidupannya. Insya Allah beliau husnul khotimah. Amin YRA.
Ainur Rohim,
Pimpinan dan Penanggung Jawab beritajatim.com
Artikel ini pernah dipublikasikan di beritajatim.com edisi 20 Januari 2023 dan diperbarui sesuai perkembangan terakhir.






