Ringkasan Berita
- Kadet Unhan perkuat kedisiplinan siswa: Kementerian Sosial melibatkan kadet Universitas Pertahanan untuk membimbing siswa Sekolah Rakyat dalam membangun disiplin dan kemandirian.
- Pendidikan mencakup rehabilitasi sosial: Sekolah Rakyat mendampingi siswa dengan latar belakang akademik dan kondisi sosial yang beragam melalui pendidikan, rehabilitasi, dan pemberdayaan.
- Sekolah Rakyat Jombang ditargetkan berkembang: Gus Ipul berharap sekolah tersebut dapat beroperasi penuh dan menampung lebih dari 2.000 siswa pada jenjang SD, SMP, dan SMA.
Jombang (beritajatim.com) – Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul melibatkan kadet Universitas Pertahanan (Unhan) untuk memperkuat kedisiplinan siswa Sekolah Rakyat. Pendampingan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun karakter, kemandirian, dan tanggung jawab siswa dalam menjalani pendidikan di lingkungan berasrama.
Hal itu disampaikan Gus Ipul saat mengunjungi Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Jombang di Tunggorono, Kamis (22/10/2026). Dalam kunjungan tersebut, ia berdialog dengan para murid dan orangtua serta bertemu dengan pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di Kabupaten Jombang.
Gus Ipul menyampaikan apresiasi kepada kepala sekolah, guru, wali asrama, dan wali asuh yang telah menjalankan tugas dengan baik. Ia juga berterima kasih kepada Bupati Jombang beserta jajaran pemerintah daerah atas dukungan terhadap penyelenggaraan Sekolah Rakyat.
Ia berharap Sekolah Rakyat di Kabupaten Jombang dapat beroperasi secara penuh dan menampung lebih dari 2.000 siswa pada jenjang sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menengah atas (SMA).
”Kita ingin ke depan sekolah di Kabupaten Jombang ini bisa operasional penuh, artinya bisa menampung lebih dari 2.000 siswa nantinya tingkat SD, SMP, dan SMA,” ujar Gus Ipul saat wawancara dengan wartawan.
Menurut Gus Ipul, siswa Sekolah Rakyat memiliki latar belakang yang beragam, baik dari segi kemampuan akademik, budaya, kebiasaan, maupun kondisi kesehatan. Karena itu, diperlukan proses penyesuaian agar seluruh siswa dapat mengikuti kegiatan pembelajaran dan kehidupan di asrama.
Ia menjelaskan, sebagian siswa telah memiliki kemampuan membaca yang baik. Namun, ada pula siswa kelas 1 SMA yang belum bisa membaca. Sebagian lainnya pernah mengalami kekerasan, putus sekolah selama satu hingga dua tahun, bahkan bekerja di tempat yang tidak semestinya.
Kondisi tersebut membuat Sekolah Rakyat tidak hanya berfokus pada pendidikan akademik, tetapi juga menjalankan fungsi rehabilitasi dan pemberdayaan sosial untuk membantu siswa mengembangkan potensi mereka.

”Nah, maka itulah di Sekolah Rakyat ini ada di samping edukasi, kita juga ada rehabilitasi, sekaligus juga ada pemberdayaan social,” lanjutnya.
Dalam proses tersebut, Gus Ipul menegaskan bahwa kedisiplinan menjadi salah satu kunci keberhasilan penyelenggaraan Sekolah Rakyat. Penguatan disiplin diperlukan agar siswa mampu beradaptasi dengan pola pendidikan berasrama dan membangun kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari.
Maka penguatan kedisiplinan di lingkungan Sekolah Rakyat menjadi sangat penting. Kunci sukses penyelenggaraan Sekolah Rakyat ini adalah pada kedisiplinan kepala sekolah, guru, wali asrama, wali asuh, seluruh pemangku kepentingan termasuk adalah para siswa Sekolah Rakyat.
Untuk mendukung upaya tersebut, Kementerian Sosial bekerja sama dengan TNI dan Polri. Kadet Universitas Pertahanan juga dilibatkan dalam kegiatan pendampingan untuk memperkuat kedisiplinan siswa Sekolah Rakyat.
Pendampingan ini mencakup pembiasaan menjalankan jadwal harian di asrama, bangun pagi, mencuci tempat makan, menata pakaian, merawat barang-barang pribadi, menjaga kebersihan lingkungan, serta mengikuti kegiatan baris-berbaris dan kepramukaan.
”Untuk itulah dalam rangka menguatkan kedisiplinan itu, kami bekerjasama dengan TNI-Polri. Hari-hari ini kita ada kadet Unhan atau mahasiswa Unhan yang melakukan kegiatan pendampingan penguatan kedisiplinan di Sekolah Rakyat,” kata Mantan Sekjen PBNU ini.
Melalui kegiatan tersebut, siswa diharapkan terbiasa menjalankan tanggung jawab secara mandiri, menaati aturan, menjaga kebersihan, serta menghargai keteraturan dalam kehidupan bersama. Pembiasaan ini menjadi bagian dari pendidikan karakter yang mendukung proses belajar mereka.
Gus Ipul juga menyampaikan perkembangan penyelenggaraan Sekolah Rakyat secara nasional. Program tersebut disebut telah beroperasi selama dua tahun dan menampung 44.000 siswa. Sementara itu, gedung permanen telah terbangun di 100 titik, dengan 93 titik di antaranya sudah beroperasi. Titik lainnya diharapkan segera menyusul.

Terkait kelanjutan pendidikan, Gus Ipul menegaskan bahwa ijazah lulusan Sekolah Rakyat setara dengan ijazah SD, SMP, dan SMA. Para siswa juga memiliki kesempatan untuk mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi, baik di dalam maupun luar negeri, sesuai dengan kemampuan dan potensi masing-masing.
”Sangat bisa, tergantung kemampuan anak-anak kita nanti. Ia bisa ikut ujian universitas dalam negeri dan universitas luar negeri, mereka inginkannya ke mana diantarkan. Pada dasarnya mendampingi sesuai dengan bakat dari siswa Sekolah Rakyat,” jelas Gus Ipul.
Sementara itu, mengenai kebutuhan tenaga pendidik, Gus Ipul menjelaskan bahwa pemerintah daerah membantu menyediakan guru selama proses perekrutan guru baru oleh pemerintah pusat masih berlangsung.
Pemenuhan tenaga pendidik dilakukan secara bertahap berdasarkan kebutuhan masing-masing sekolah. Setelah guru hasil seleksi pemerintah pusat tersedia, tenaga bantuan dari pemerintah kabupaten akan ditarik kembali. Penempatan tenaga pendidik, wali asrama, dan wali asuh juga disesuaikan dengan rasio yang telah ditetapkan.
Secara nasional, Gus Ipul menyebut jumlah tenaga pendidik Sekolah Rakyat telah mencapai lebih dari 7.000 orang. Jika ditambah wali asrama dan wali asuh, jumlah tenaga yang terlibat dalam operasional program tersebut mencapai lebih dari 13.000 orang.
Melalui penguatan kedisiplinan dengan dukungan kadet Unhan serta pemenuhan kebutuhan tenaga pendidik, pemerintah berupaya memastikan Sekolah Rakyat tidak hanya memperluas akses pendidikan, tetapi juga membangun karakter, kemandirian, dan kesempatan masa depan yang lebih baik bagi para siswa. [suf]






