Ringkasan Berita:
- PBNU gelar upacara HSN 2026: Ketua Umum PBNU Gus Kikin memimpin upacara Hari Santri Nasional di Unhasy, Tebuireng, Jombang, yang diikuti ribuan santri dan jajaran pengurus PBNU.
- Kenang Resolusi Jihad: Peringatan ditutup dengan teatrikal perjuangan santri melawan penjajah dan dilanjutkan dengan rangkaian kirab dari Mojokerto menuju Surabaya untuk mengenang perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
- Gus Kikin serukan persatuan dan jihad keilmuan: Gus Kikin mengajak masyarakat memperkuat persatuan serta menjadikan penguasaan ilmu pengetahuan sebagai bentuk jihad yang relevan pada masa kini.
Jombang (beritajatim.com) – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar upacara peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di lapangan Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy), Tebuireng, Jombang, Kamis (22/10/2026). Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin bertindak sebagai pembina upacara yang diikuti ribuan santri serta jajaran pengurus PBNU.
Sejumlah tokoh NU turut hadir dalam upacara tersebut, di antaranya Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Katib Aam Prof M Nuh, Sekretaris PBNU Gudfan Arif atau Gus Gudfan, Ketua Pelaksana Hari Santri Nasional Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, Wakil Sekretaris Jenderal Nur Hidayat, serta Menteri Haji dan Umrah KH Irfan Yusuf atau Gus Irfan.
Ribuan santri Tebuireng mengikuti upacara dengan mengenakan pakaian putih, peci hitam, dan sarung. Mereka memadati lapangan Unhasy sejak pagi hingga siang hari untuk memperingati Hari Santri Nasional yang mengangkat kembali nilai-nilai perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Peringatan tersebut ditutup dengan aksi teatrikal yang menggambarkan perjuangan para santri dalam melawan penjajah. Sekitar tujuh orang memasuki lapangan mengenakan kaus dengan bercak merah sebagai simbol para pejuang yang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Dalam pertunjukan itu, para pejuang santri menyobek bendera Belanda yang terdiri atas warna merah, putih, dan biru. Bagian biru kemudian disobek hingga menyisakan warna merah dan putih sebagai simbol perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Suasana semakin khidmat ketika dua orang berpakaian serba putih memasuki lapangan sembari membacakan puisi. Pembacaan puisi tersebut diiringi lagu Gugur Bunga yang memperkuat nuansa haru dan penghormatan terhadap pengorbanan para pejuang bangsa.
Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz menjelaskan bahwa peringatan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober tidak dapat dilepaskan dari sejarah Resolusi Jihad yang dicetuskan para ulama Nahdlatul Ulama untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Menurut Gus Kikin, Resolusi Jihad didahului oleh Fatwa Jihad yang bertujuan membangkitkan semangat masyarakat Indonesia, khususnya warga Nahdlatul Ulama, agar mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.

Ia menjelaskan bahwa Resolusi Jihad menjadi momentum penting ketika para ulama dan berbagai komponen NU bermusyawarah untuk menentukan sikap menghadapi ancaman kembalinya pasukan Inggris dan Belanda ke Indonesia.
“Oleh karena itu, tanggal 22 Oktober sidang yang dilaksanakan di Surabaya itu akhirnya memutuskan untuk menghimbau kepada pemerintah Republik Indonesia untuk mengambil sikap karena kecemasan atau kekhawatiran masuknya tentara Inggris maupun Belanda itu ke Indonesia,” ujar Gus Kikin.
Gus Kikin menegaskan bahwa peringatan Hari Santri tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga momentum untuk mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya menjaga kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pendahulu bangsa.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk pemerintah, generasi muda, dan warga Nahdlatul Ulama, untuk memperkuat persatuan sebagai fondasi dalam mempertahankan kemerdekaan dan membangun Indonesia.
“Saya rasa tidak hanya pemerintah, kita semuanya, NU semuanya, semua pemuda termasuk dengan semuanya, kita kembali lagi kita berpikir, kita harus Bersatu,” katanya.
Menurutnya, semangat persatuan merupakan pelajaran penting yang dapat dipetik dari perjuangan para ulama dan santri pada masa awal kemerdekaan. Ia juga meminta media untuk menyampaikan pesan tersebut kepada masyarakat agar nilai-nilai perjuangan dan kebersamaan terus terjaga.
Selain upacara, rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Tebuireng juga diisi dengan kegiatan kirab yang mengangkat sejarah perjuangan Resolusi Jihad dan pertempuran 10 November di Surabaya.
Gus Kikin menjelaskan bahwa kirab tersebut direncanakan menempuh rute dari Mojokerto menuju Surabaya. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mengenang mobilisasi massa dari berbagai daerah yang bergerak menuju Surabaya untuk menghadapi ancaman pasukan Inggris dan Belanda.

Ia menyebutkan bahwa Banser menjadi peserta utama dalam kirab tersebut, dengan melibatkan 99 anggota Banser yang menggunakan sepeda motor. Sebelum kirab diberangkatkan dari Mojokerto menuju Surabaya, rombongan terlebih dahulu dilepas dari kawasan Pondok Pesantren Tebuireng.
Rangkaian kegiatan itu juga berkaitan dengan peringatan ultimatum Inggris pada November 1945 dan peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945. Melalui kirab tersebut, PBNU berupaya menghidupkan kembali ingatan kolektif mengenai peran ulama, santri, dan masyarakat dalam mempertahankan kemerdekaan.
Dalam konteks kehidupan saat ini, Gus Kikin menilai bahwa jihad yang relevan bagi generasi muda adalah jihad keilmuan. Ia mengajak masyarakat untuk terus memperdalam ilmu pengetahuan sebagai bekal membangun persatuan dan memperkuat masa depan bangsa.
“Jihad kita kembali lagi jihad keilmuan, keilmuan kita, kita perdalam keilmuan-keilmuan karena keilmuan itulah yang hal yang paling-paling efektif untuk kita membangun persatuan,” ungkapnya.
Gus Kikin menekankan bahwa penguatan ilmu pengetahuan harus berjalan seiring dengan upaya menjaga persatuan. Menurutnya, masyarakat yang memiliki pengetahuan dan mampu membangun kebersamaan akan menjadi modal penting bagi Indonesia untuk menghadapi berbagai tantangan pada masa mendatang.
Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Tebuireng pun menjadi momentum untuk menegaskan kembali peran historis santri dalam perjuangan kemerdekaan sekaligus mendorong generasi muda agar meneruskan perjuangan melalui pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan, dan penguatan persatuan nasional. [suf]






