Surabaya – Kucing liar telah menjadi isu umum di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh keberadaan kucing liar yang sudah merajalela tanpa ada pemilik.
Namun yang menjadi masalah adalah hewan penyebab adanya hama bukan hanya kucing liar namun hewan-hewan lain seperti tikus ikut turut menyebabkan rantai hama pada lingkungan.
“Stray cat adalah kucing liar yang tidak ada yang memiliki, karena dia hidup kadang di pasar, pindah dari rumah ke rumah, jalan ke jalan. Prinsipnya kalo disebut liar, berarti tidak ada yang bertanggung jawab.” jelas

selaku dokter hewan di Rumah Sakit Hewan Universitas Airlangga Surabaya.
Tidak adanya pihak yang bertanggung jawab atas kucing liar memicu berbagai persoalan, terutama terkait hama.
Kucing liar dapat menjadi yang dapat menular ke manusia dan hewan peliharaan lainnya. Maka dari itu perlu kontrol dari masyarakat agar dapat mencegah isu ini ke jenjang yang lebih serius.
“Kalo tidak terkontrol kan, pasti berbahaya bagi siapapun. Tidak hanya manusia, sesama hewan pun dapat terkontaminasi karena tidak adanya tanggung jawab dari masyarakat.” sebut Dr. Komang.
Di sisi lain menurut seorang pecinta kucing, Valerie Tasya Loajaya mengatakan bahwa memang kucing liar menyebabkan hama, namun masih ada hewan lain yang juga turut menyebabkan hama.
“Sebenarnya kalo dibilang secara fakta, itu tidak bisa ditutupi. Tapi ini juga kenyataannya, kucing yang katanya hama itu juga makan hama lain kayak tikus.” kata Valerie.
Permasalahan hama di Indonesia kian serius karena tidak hanya disebabkan oleh kucing liar, tetapi juga oleh hewan lain seperti tikus, membentuk rantai hama yang kompleks. Kucing liar yang tidak memiliki penanggung jawab dapat menyebarkan penyakit dan menimbulkan bahaya, bahkan jika sebagian dari mereka memangsa hama lain. Oleh karena itu, kontrol dari masyarakat menjadi krusial untuk mencegah eskalasi masalah ini.
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.






