Jombang (beritajatim.com) – Kualitas air di Sungai Brantas Desa Turipinggir Kecamatan Megaluh Kabupaten Jombang tergolong buruk. Yakni, kandungan fosfat cukup tinggi di sungai tersebut. Hal itu dapat menstimulasi pertumbuhan alga sehingga sinar matahari yang masuk ke perairan akan berkurang.
Nah, ketika alga mati bakteri akan memecahnya menggunakan oksigen terlarut dalam air. Dampaknya kualitas air akan menurun, dan mengancam kehidupan biota termasuk ikan di sungai. Demikian diungkapkan oleh Alaika Rahmatullah, Divisi Edukasi Ecoton, Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah.
Ecoton dan Komunitas Sekarmuyo di Desa Turipinggir melakukan tanam pohon dan uji kualitas air di Sungai Brantas Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang. Kegiatan ini dalam rangka mendukung kawasan Ekowisata Sungai Brantas yang telah digagas oleh kelompok nelayan komunitas sekarmulyo atas dasar perlindungan terhadap Sungai Brantas di Megaluh, Jombang.
“Penanaman pohon yang kami lakukan di bantaran sungai adalah wujud dari penghijauan kawasan bantaran sungai supaya menjadi hutan bantaran, terbebas dari timbulan sampah dan bangunan permanen yang dapat mengurangi beban pencemaran sungai brantas sekaligus dapat menarik pengunjung di kawasan ekowisata yang kami bangun,” ungkap Supriyo, Ketua Komunitas Sekarmulyo.
BACA JUGA:
Kesehatan Sungai di Wonosalam Jombang Dipantau Lewat Laboratorium
Lebih lanjut, Priyo menambahkan, pohon yang ditanam diantaranya pohon loa, nam-naman, segawe dan kepuh. Harapannya, pohon loa ini buahnya dapat menjadi makanan ikan, sehingga dapat menunjang aktivitas ekowisata yang praktiknya mengenalkan ikan lokal dan berbagai atraksi penangkapan ikan tradisional ramah lingkungan.
Komunitas Sekarmulyo juga melakukan pengujian kualitas air secara rutin setiap dua minggu sekali di Sungai Brantas. Hasil uji air ditemukan parameter fosfat 0,3 ppm sudah di atas baku mutu yang diperbolehkan sesuai PP.22 Tahun 2021 yaitu 0,2 ppm. Nitrat 4 ppm baku mutunya 10 ppm dan nitrit 0 ppm.
Selain itu, berdasarkan laporan warga, belakangan ini sungai Dor yang mengalir ke Sungai Brantas Megaluh Jombang telah ditemukan kejadian ikan mati massal diduga akibat pembuangan limbah dan obat yang berdampak kepada kematian ikan. Hal ini sangat merugikan kelompok nelayan, karena berdampak pada pendapatan mereka yang semakin turun.

Pihaknya, tetap konsisten untuk melakukan patroli sungai, membangun kawasan bantaran sebagai lahan konservasi dan mendorong sinergitas dengan pemerintah daerah dalam rangka perlindungan Sungai Brantas.
“Karena komunitas kami dibentuk atas rasa keprihatinan terhadap menurunnnya kondisi Sungai Brantas dan rusaknya ekosistem yang berimbas terhadap kepunahan ikan endemik sungai Brantas,” ungkap Supriyo yang bekerja sebagai nelayan Sungai Brantas sejak tahun 1970. [suf]






