Jember (beritajatim.com) – Pemerintah Republik Indonesia dinilai berhasil menyelenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20. Keberhasilan ini membawa dampak positif bagi Indonesia.
Dosen Program Studi Hubungan Internasional FISIP Universitas Jember, Agus Trihartono, menyebut pertemuan G20 menjadi etalase untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah salah satu aktor dunia, yang harus diperhitungkan dalam kancah internasional.
Indonesia juga telah menunjukkan memiliki kekayaan sosial budaya dengan hetrogenitasnya. “Gelaran KTT G20 menjadi unjuk kebolehan soft power Indonesia kepada dunia, Indonesia yang tengah dan terus tumbuh,” kata lulusan Ritsumeikan University, Kyoto, Jepang ini, sebagaimana dilansir Humas Universitas Jember, di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (19/11/2022).
Menurut Agus, fokus G20 lebih banyak membahas dan menyelesaikan aspek ekonomi dan sosial. Apalagi keberadaan negara-negara di G20 merepresentasikan 75 persen perdagangan dunia dan 80 persen Produk Domestik Bruto (PDB) dunia.
[berita-terkait number=”5″ tag=”ktt-g20″]
Banyak pimpinan negara anggota G20 yang kemudian menjadikan KTT G20 sebagai ajang pertemuan bilateral. Hal ini ditunjukkan pertemuan pemimpin Amerika Serikat dan China. Indonesia sendiri telah berhasil menegaskan posisi tidak berada di blok timur atau barat.
“Indonesia sudah membuktikan mampu menggelar KTT G20 yang kemudian menghasilkan komunike bersama yang berisi lima poin penting walaupun melalui perundingan yang alot. Padahal awalnya ada pihak yang pesimis akan ada komunike bersama di KTT G20 di Bali, bahkan sangsi KTT G20 bisa terlaksana” ulas Agus Trihartono.
Mengenai perang Rusia dengan Ukraina, Agus mengingatkan, sejak semula G20 tidak didesain sebagai organisasi keamanan apalagi menyelesaikan konflik bersenjata. “Mekanisme penyelesaian perang Rusia-Ukraina seharusnya ada di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan bukan di G20,” katanya. [wir]






