Magetan (beritajatim.com) – Polres Magetan masih mendalami kasus penemuan bayi laki-laki prematur di bawah pohon randu, kawasan kebun di belakang rumah warga Desa Sumbersawit, Kecamatan Sidorejo. Hasil penyelidikan sementara mengungkap, bayi diduga sengaja ditinggalkan oleh ibu kandungnya yang masih duduk di kelas X SMK setelah melahirkan seorang diri.
Kasi Humas Polres Magetan Iptu Indra Suprihatin memaparkan kronologi kejadian. Bermula, polisi menerima laporan terkait adanya perempuan yang datang ke Puskesmas Sidorejo dalam kondisi mengalami pendarahan setelah melahirkan. Saat berada di puskesmas, petugas menanyakan keberadaan bayi yang dilahirkan.
Dari informasi tersebut, petugas kemudian mengetahui bayi ternyata ditinggalkan di area kebun yang berada di belakang rumah. Pihak puskesmas selanjutnya menyampaikan informasi itu kepada ayah perempuan tersebut agar mencari keberadaan bayi.
“Ternyata bayi yang dilahirkan tadi ditinggal di kebun. Dari petugas Puskesmas menyampaikan ke orang tua atau bapak dari ibu bayi atau perempuan tadi. Bayinya di kebun, tolong dilihat. Seperti itu. Akhirnya ditemukan di kebun,” kata Indra, Jumat (4/9/2026)
Bayi kemudian ditemukan berada di bawah pohon randu. Lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah, yakni sekitar 200 meter dari kediaman ibu bayi.
Menurut Indra, rentang waktu sejak bayi diduga ditinggalkan hingga ditemukan juga relatif singkat. Peristiwa tersebut diketahui sekitar pukul 05.00 WIB, sementara bayi ditemukan sekitar pukul 05.30 WIB.
“Dari jam 05.00 pagi sampai jam ditemukannya 05.30. Enggak lama. Sekitar ya kurang lebih 30 menit,” ujarnya.
Kondisi bayi saat ditemukan masih hidup. Bayi tersebut kemudian mendapat penanganan medis dan saat ini masih menjalani perawatan di rumah sakit di Magetan. Ibu bayi juga masih mendapatkan perawatan karena baru saja menjalani persalinan.
“Alhamdulillah kondisi bayi hidup, ibunya juga hidup, tapi semuanya masih dalam perawatan,” jelas Indra.
Hasil pemeriksaan sementara menyebut bayi lahir prematur. Usia kandungan diperkirakan baru sekitar enam bulan sehingga bayi membutuhkan penanganan medis secara intensif.
Indra menegaskan polisi belum menemukan adanya indikasi upaya aborsi dalam kasus tersebut. Namun, kesimpulan mengenai proses persalinan maupun kemungkinan adanya tindakan lain belum dapat dipastikan karena ibu bayi masih menjalani perawatan dan belum bisa dimintai keterangan secara langsung.
“Kalau upaya untuk aborsi belum ada temuan seperti itu,” tegasnya.
Ia menambahkan, polisi tetap akan melakukan pendalaman setelah kondisi ibu bayi memungkinkan untuk diperiksa. Hal tersebut penting untuk memastikan secara utuh bagaimana proses persalinan berlangsung dan apa yang terjadi sebelum bayi ditemukan di kebun.
“Kalau kita belum mendalami atau meminta keterangan dari ibunya, kita belum bisa memberikan statement atau meyakinkan bahwa itu aborsi atau bukan. Jadi kita masih pendalaman nanti setelah ibunya bisa dimintai keterangan,” ujarnya.
Dari penyelidikan sementara, polisi juga menduga ibu bayi melahirkan seorang diri. Belum ditemukan keterangan yang menunjukkan adanya pihak lain yang membantu proses persalinan maupun membawa bayi ke lokasi penemuan.
“Melahirkan sendiri. Sementara hasil penyelidikan kami tidak ada yang membantu,” kata Indra.

Polisi juga telah meminta keterangan dari sejumlah pihak yang berkaitan dengan kejadian tersebut. Namun, ibu bayi belum dapat diperiksa lantaran masih menjalani perawatan medis.
“Sampai saat ini sudah dimintai keterangan, tapi untuk yang mbaknya atau perempuan yang melahirkan tadi masih dalam perawatan jadi kita belum bisa meminta keterangan,” jelasnya.
Dari sisi latar belakang, polisi sementara menduga tindakan tersebut dipicu rasa malu terhadap keluarga dan kekhawatiran kehamilan hasil hubungan dengan laki-laki tersebut diketahui orang tua maupun warga sekitar.
“Motifnya yang kami dalami sesuai dengan hasil penyelidikan di lapangan penemuan di lokasi. Jadi dari dilahirkan terus ditaruh di kebun,” ungkap Indra.
Ia kemudian memperjelas bahwa rasa malu menjadi salah satu dugaan motif yang sedang didalami penyidik.
“Malu yang jelas mereka berdua, ya jelas ibunya tadi itu merasa malu dari hasil hubungan mereka,” katanya.
Ibu bayi diketahui masih berstatus sebagai pelajar. Sementara laki-laki berinisial N (23) warga Kecamatan Sidorejo yang disebut memiliki hubungan dengan ibu bayi bukan pelajar. Namun, polisi belum menyimpulkan status hubungan keduanya maupun latar belakang laki-laki tersebut karena proses penyelidikan masih berlangsung.
“Yang pelajar adalah ibunya saja. Untuk yang satunya atau bapaknya bukan. Jadi ini masih didalami untuk hubungannya berdua itu seperti apa,” jelas Indra.
Polisi memastikan hingga saat ini belum ada pihak yang ditetapkan sebagai pelaku ataupun diamankan sebagai tersangka. Penyidik masih mengumpulkan keterangan dan bukti untuk mengungkap rangkaian kejadian secara utuh.
“Nah sampai sekarang masih dalam proses penyelidikan. Kalau mengamankan pelaku pun belum,” tegasnya.
Kasus ini menjadi perhatian karena bayi yang ditemukan masih hidup tersebut lahir jauh sebelum usia kehamilan normal dan kemudian ditemukan seorang diri di area kebun. Untuk sementara, kepolisian memprioritaskan keselamatan ibu dan bayi sembari melanjutkan proses penyelidikan.
Selanjutnya, penyidik Polres Magetan akan mendalami keterangan ibu bayi setelah kondisi kesehatannya memungkinkan. Pemeriksaan tersebut diharapkan dapat memperjelas kronologi persalinan, alasan bayi ditinggalkan di bawah pohon randu, hubungan antara ibu dan laki-laki yang disebut sebagai ayah bayi, serta memastikan ada atau tidaknya unsur pidana dalam peristiwa tersebut. [fiq/but]






