Surabaya (beritajatim.com) – Penerapan Video Assistant Referee (VAR) di kompetisi Liga 1 2024/2025 rupanya masih belum menjadi jaminan fair play dalam sebuah pertandingan. Faktanya, masih banyak pelatih yang mengeluhkan kinerja VAR di Liga 1.
“Terlalu Lambat!” begitu kritik Paul Munster, pelatih Persebaya Surabaya, terkait VAR.
Munster menyorot kinerja wasit dan VAR saat Persebaya melawan PSS Sleman di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Minggu (11/8/2024). Laga tersebut diwarnai pengambilan keputusan melalui VAR yang dinilai memakan waktu terlalu lama. Akibatnya, pertandingan sempat terhenti selama kurang lebih sepuluh menit.
Menurut data dari PT Liga Indonesia Baru (LIB), hingga paruh Liga 1 musim ini, VAR telah diterapkan dalam 153 laga dengan total 642 insiden yang diperiksa. Rata-rata terdapat 4,2 pemeriksaan per pertandingan, menunjukkan tingginya tingkat keterlibatan VAR dalam mendukung keputusan wasit di lapangan.
LIB juga merilis statistik rinci waktu yang dihabiskan untuk berbagai jenis pemeriksaan sebagai berikut:
- 61,9 detik rata-rata waktu pemeriksaan VAR secara keseluruhan.
- 44,2 detik rata-rata waktu pemeriksaan untuk insiden gol.
- 164,7 detik rata-rata waktu pemeriksaan untuk kartu merah.
- 60,2 detik rata-rata waktu pemeriksaan untuk insiden penalti.
“Kami memahami bahwa ada kritik terkait waktu yang dihabiskan untuk beberapa pemeriksaan, terutama dalam kasus kartu merah yang membutuhkan waktu rata-rata lebih dari dua menit. Tentu ini menjadi bagian evaluasi kami dan Komite Wasit sehingga terus dilakukan upaya perbaikan agar prosesnya bisa lebih cepat tanpa mengurangi akurasi,” terang Asep Saputra, Direktur Operasional PT LIB.
Meski masih panen kritik, PT LIB menegaskan bahwa VAR adalah upaya untuk menciptakan kompetisi yang lebih adil dan transparan.
“Statistik menunjukkan bahwa teknologi ini telah memberikan dampak signifikan dalam membantu wasit membuat keputusan yang lebih akurat,” jelas Asep.
“Kami terus berkomunikasi dengan semua pihak, termasuk wasit dan pelatih, untuk memastikan bahwa VAR digunakan secara optimal. Kami juga menerima masukan dari para suporter karena mereka adalah bagian penting dari sepak bola. Fokus kami adalah bagaimana teknologi ini dapat terus berkembang untuk mendukung kompetisi yang lebih baik,” tuturnya. [faw/beq]






