Pacitan (beritajatim.com) – Sebanyak 30 persen warga di Kecamatan Sudimoro, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, dilaporkan masih belum memiliki fasilitas jamban yang sehat dan layak hingga saat ini. Kondisi sanitasi yang memprihatinkan tersebut menjadi pemicu utama merebaknya wabah diare yang menyerang ratusan penduduk dalam beberapa pekan terakhir.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan mencatat bahwa rendahnya akses terhadap sanitasi dasar ini sangat berpengaruh pada penurunan kualitas kesehatan lingkungan di wilayah tersebut. Fasilitas jamban keluarga yang tidak memenuhi standar kesehatan mempermudah kontaminasi bakteri ke sumber air warga.
“Yang memiliki jamban layak itu sekitar 70 persen. Sisanya masih menggunakan jamban tidak sehat serta pengelolaan limbah rumah tangga yang kurang baik. Ini sangat berpengaruh terhadap kualitas kesehatan masyarakat,” ujar Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Pacitan, Nunuk Irawati, Senin (26/1/2026).
Masalah ketersediaan jamban ini menjadi semakin krusial mengingat wilayah Sudimoro merupakan daerah pedesaan dengan keterbatasan akses air bersih yang cukup tinggi. Datangnya musim penghujan saat ini mempercepat proses perkembangbiakan kuman karena limbah rumah tangga yang tidak terkelola dengan baik.
Hingga kini, ratusan warga mulai dari kelompok anak-anak hingga lanjut usia dilaporkan terjangkit diare akibat lingkungan yang tidak higienis. Sebagian pasien terpaksa dilarikan ke Puskesmas Sudimoro dan Puskesmas Sukorejo karena membutuhkan penanganan medis intensif.
Menanggapi krisis ini, Dinkes Pacitan mulai menggalang koordinasi lintas sektoral dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta perangkat desa setempat. Fokus utama kerja sama ini adalah mempercepat pengadaan fasilitas jamban sehat dan perbaikan infrastruktur sanitasi warga secara masif.
“Itu memang menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Pemerintah daerah akan terus berupaya agar masyarakat memiliki sanitasi yang layak,” imbuh Nunuk menekankan komitmen pemerintah.
Selain perbaikan fisik, tim medis juga gencar melakukan penyelidikan epidemiologi untuk memetakan titik-titik penyebaran penyakit di pemukiman warga. Edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) terus diberikan guna mengubah kebiasaan masyarakat dalam mengelola limbah domestik.
Petugas di lapangan juga membagikan oralit serta memberikan imbauan keras agar warga selalu memasak air minum hingga mendidih. Langkah darurat ini diambil untuk memutus rantai penularan diare yang semakin meluas di Kecamatan Sudimoro.
“Masyarakat kami minta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala diare, agar segera terdeteksi dan bisa memutus mata rantai penularan,” pungkasnya. [tri/beq]






