Surabaya (beritajatim.com) – Selain daging ayam, kambing, atau sapi, babi menjadi salah satu makanan favorit bagi masyarakat China. Namun sayangnya, saat ini Negara Tirai Bambu tersebut justru sedang mengalami krisis babi. Ini disebabkan oleh berkurangnya jumlah produksi dari peternak.
Penurunan yang terjadi juga didasari oleh merosotnya angka permintaan babi disertai melonjaknya biaya pakan sejak Juni 2021 hingga Juli 2022 ini. Akibatnya, mau tak mau para petani ternak harus memusnahkan induk babi, atau setidaknya tidak mengawinkan para betina untuk memperlambat produksi dan mengurangi kerugian.
Sebelumnya, kerugian yang dialami para peternak bisa mencapai 600 yuan atau sekitar 1,3 juta per babi.
Kementerian pertanian melaporkan jika China memiliki 44,6 juta induk babi pada September 2021, turun menjadi 41,85 juta pada Maret 2022, dan meningkat kembali menjadi lebih dari 43 juta pada September 2022.
Meski pasokan indukan telah naik bertambah, rupanya tidak mampu menahan lonjakan harga daging babi yang terjadi. Biro statistik mencatat pada Oktober 2022, harga daging babi melonjak 51,8 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”china”]
Sementara itu, Shanghai JC Intelligence Co Ltd juga memaparkan data teekait harga babi hidjp yang baik sekitar 78 persen dari Juni menjadi 28,50 yuan atau sekitar Rp 51 ribu per kg pada 19 Oktober. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak Maret 2021.
Menurut 10 analis industri, petani, dan pemasok pakan dan genetika, harga daging babi diproyeksi akan tetap tinggi pada 2023 mendatang
Di sisi lain, lonjakan harga komoditas tersebut menjadi salah satu biang kerok dari inflasi yang sedang terjadi di negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu. Inflasi China diprediksi meroket hingga melampaui 3%, yang berdampak pada kenaikan sejumlah harga di China.
Pemerintah pun menyalahkan para petani yang menekan penyembelihan babi untuk proses penggemukan terlebih dahulu lantaran harga yang lebih mahal. Sedangkan laporan yang diberikan cukup berbeda, analis dan ahli mengatakan telah terjadi pengurangan pasokan yang besar sejak musim dingin lalu. Sementara Kementrian Pertanian dan Pedesaan mengatakan sebaliknya, bahwa kapasitas pembibitan telah memenuhi kebutuhan.
Sejauh ini, solusi yang dilakukan para pelaku industri di China adalah dengan meningkatkan impor daging babi dalam beberapa bulan mendatang. (mnd/nap)






