Surabaya (beritajatim.com) – Dua mahasiswa Hotel Management Petra Christian University (PCU), Cleary Budiman dan Davin Varian Ikwanto Koean, sukses mengolah pepaya Bangkok menjadi wine bercita rasa khas.
Inovasi ini bukan hanya menghadirkan produk unik di dunia kuliner, tetapi juga menjadi solusi dalam mengurangi limbah pertanian akibat panen berlebih.
Indonesia dikenal sebagai negara tropis dengan produksi buah melimpah, termasuk pepaya Bangkok. Namun, panen berlebih sering kali menyebabkan buah ini terbuang sia-sia. Melihat hal tersebut, Cleary dan Davin terdorong untuk menciptakan produk bernilai jual tinggi.
“Awalnya kami melihat banyak sisa buah pepaya akibat panen berlebih di sektor pertanian. Dari situ, kami termotivasi untuk mencari solusi pengolahan yang lebih efektif,” ujar Cleary, Kamis (13/3/2025).
Melalui riset dan eksperimen, mereka berhasil menciptakan fruit wine berbahan dasar pepaya Bangkok yang memiliki rasa khas, manis seimbang, tingkat keasaman rendah, serta body atau tekstur yang lebih baik dibandingkan wine dari buah lainnya.
Meski wine umumnya dibuat dari anggur, tetapi bisa juga diolah dari buah lain yang mengandung glukosa, seperti pepaya. Proses pembuatan wine dari pepaya Bangkok sendiri memerlukan bahan sederhana, yaitu pepaya matang, gula pasir, air, dan ragi (Saccharomyces cerevisiae).
“Pepaya harus dikupas dan dipisahkan dari bijinya, lalu dipotong. Setelah itu diblender dan dicampur air dengan perbandingan 1 : 1. Proses penyaringan juga diperlukan, lalu ditambahkan gula pasir dan ragi (Saccharomyces Cerevisiae),” jelas Davin yang memiliki passion di bidang Food and Beverage itu.
Setelah proses fermentasi yang berlangsung selama 14 hari, residu yang terbentuk perlu dipisahkan dari wine, dan kemudian wine dimasukkan ke dalam botol untuk proses pengendapan selama 7 hari. Jika endapan sudah dipisahkan dari wine, maka wine siap dikonsumsi.
Adapun olahan wine dari Pepaya Bangkok tersebut, per botolnya berisi 750ml. Cleary dan Davin pun membandrol harga Rp150 ribu.
Dosen pembimbing mereka, Hanjaya Siaputra, melihat inovasi ini sebagai peluang besar bagi masyarakat, terutama di daerah penghasil pepaya seperti Desa Sugihwaras, Kediri.
“Harapannya, inovasi ini dapat memberdayakan masyarakat dengan memberikan cara yang lebih baik dalam mengelola hasil panen yang melimpah, serta meningkatkan perekonomian mereka,” ujar Hanjaya.
Setelah menemukan formula unik ini, Cleary dan Davin akan melanjutkan perjalanan mereka dalam dunia kuliner dan industri minuman. Mereka juga akan mengikuti Wisuda ke-87 Petra Christian University pada Sabtu (15/03/2025) sebagai awal dari langkah mereka ke industri wine berbasis buah lokal.
Inovasi ini membuktikan bahwa dengan kreativitas dan riset yang tepat, limbah pertanian bisa diubah menjadi produk bernilai tinggi. Wine dari pepaya Bangkok ini bisa menjadi alternatif minuman fermentasi eksklusif, sekaligus solusi dalam pemanfaatan hasil panen yang melimpah.(fyi/ted)






