Mojokerto (beritajatim.com) – Berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 Tahun 2023 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2023-2043, luas wilayah Kota Mojokerto 20,48 Kilometer (Km) persegi atau 20.480 Hektare (Ha). Dengan luas wilayah tersebut, Kota Mojokerto hanya memiliki area persawahan seluas 443,82 Ha.
Meski begitu, pada 2023 lalu Kota Mojokerto berhasil meraih penghargaan Peduli Ketahanan Pangan (PKP) dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur. Penghargaan tersebut diberikan kepada Kota Mojokerto atas inovasi Inkubasi Wirausaha Petani Perkotaan yang merupakan program Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP).
Selain program Inkubasi Wirausaha Petani Perkotaan, juga terdapat Pekarangan Pangan Lestasi (P2L), sosialisasi pangan Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA), pembinaan kelompok penghasil pangan, pengawasan keamanan pangan, bimtek olahan hasil pangan, serta pembentukan regulasi yang mendukung ketahanan pangan.
Meski bukan menjadi daerah penyumbang komoditas pangan Jawa Timur, namun tanaman padi dan tebu mendominasi area persawahan di Kota Mojokerto. Meski produksi kedua komoditas tersebut tidak menjadikan Kota dengan tiga kecamatan ini menjadi salah satu penyumbang komoditas pangan di Jawa Timur.
Plt Kepala DKPP Kota Mojokerto, Muhammad Hekamarta Fanani mengatakan, Kota Mojokerto belum bisa memenuhi kebutuhan pangan sendiri. “Kita masih mengandalkan daerah lain. Beras juga masih ngambil dari daerah lain. Tapi untuk pertanian, kita ada padi dan tebu,” ungkapnya, Sabtu (2/11/2024).
Heka (sapaan akrab, red) menjelaskan, luas tanaman padi di Kota Mojokerto 382,82 Ha dan tanaman tebu seluas 61 Ha. Sepanjang Januari hingga Oktober 2024, produksi padi di Kota Mojokerto mencapai 2.419,67 ton dan tebu 6.619,50 ton.
Berkurangnya Luas Area Persawahan
Luas area persawahan di Kota Mojokerto tampaknya menjadi tantangan cukup berat ke depan. Ini mengingat berkurangnya area pertanian akibat alih fungsi lahan.
Heka membenarkan hal itu. Dia mengakui, banyak area yang potensial untuk pertanian justru beralih fungsi menjadi kawasan permukiman, ditandai dengan menjamurnya komplek perumahan.
“Kayaknya iya (area persawahan berkurang) karena tiap tahun ada perumahan baru, klaster baru. Perkembangan tipologi kota, memang banyak lahan yang akhirnyadialih fungsikan. Kita tidak bisa bergerak banyak, peningkatan produksi kita usahakan karena tahun ini kita support bibit,” katanya.
Di 2024 ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto melalui DKPP memberikan bantuan bibit padi, bibit cabai, pupuk dan pestisida atau pengendalian hama. Bantuan tersebut diberikan kepada Gabungan Kelompok Petani (Gapoktan) yang ada di Kota Mojokerto. Dengan jumlah gapoktan yang ada dengan bantuan yang diberikan dinilai cukup.
“Insya Allah, kalau cukup ya cukup. Kota (Kota Mojokerto) tercukupi, pupuk di luar subsidi, kota juga ada tapi nggak banyak. Di Kota Mojokerto, untuk gapoktan padi ada 19 dan tebu ada 3 gapoktan dengan jumlah PPP ada 11 orang. Untuk supporting dan sarpras juga sudah cukup, kita punya traktor, pompa, mesin giling,” ujarnya.
Heka menjelaskan, jika di masing-masing Gapoktan di Kota Mojokerto memiliki alat-alat pertanian. DKPP Kota Mojokerto di tahun 2024 juga menerima bantuan lima unit pompa air. Menurutnya, Kota Mojokerto tidak bisa memperluas area persawahan karena lahan persawahan terbatas, namun untuk sarana prasarana (sarpras) cukup mendukung.
“Kita nggak supporting memperluas lahan karena memang terbatas tapi bagaimana lahan yang terbatas ini maksimal produksinya. Perternakan di Kota nggak ada, hanya ada 40-50 ekor sapi. Kalau unggas, punya warga sendiri. Perikanan kita tidak bisa banyak bergerak juga, Kota belum bisa memenuhi kebutuhan pangan sendiri, kekuatan pangan kita belum kesana,” tuturnya.
Terobosan Pemkot Mojokerto
Minimnya area persawahan di Kota Mojokerto, Pemkot Mojokerto juga menggalakkan cabainisasi atau gerakan menanam cabai beberapa waktu lalu. Hal tersebut dilakukan dalam upaya pengendalian harga cabai yang sempat mengalami kenaikan hingga tembus Rp75 ribu per kg.
“Tapi terpencar, tidak satu area yang sama, KWT (Kelompok Wanita Tani) untuk pengguatan rumah tangga saja. Untuk di masing-masing rumah, kita tidak bisa memastikan apakah warga menanam cabai. Itu himbauan, kita juga bagikan bibit cabai ada 1.000 bibit di tahun ini,” jelasnya.
DKPP bersinergi dengan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) dalam kegiatan cabenisasi. Cabenisasi ini merupakan bagian dari program Amalkan dan Kukuhkan Halaman Asri Teratur Indah dan Nyaman (Aku Hatinya) PKK yang bisa menjadi solusi agar masyarakat tidak bergantung dengan stok cabai di pasar.
“Pertanian dan peternakan tidak bisa bergerak banyak karena pertanian dan peternakan butuh lahan, kendala polusi, limbah. Tapi kita terus berusaha untuk meningkatkan produksi pangan kita, seperti membantu peralatan. Lebih pada mengoptimalkan lahan yang ada, termasuk KWT-KWT. Minimal di rumah tangga masing-masing,” paparnya.
Heka menjabarkan, area persawahan di Kota Mojokerto didominasi di Kecamatan Prajurit Kulon. Yakni di Kelurahan Blooto, Pulorejo dan Prajurit Kulon. Kecamatan Magersari hanya ada di Kelurahan Gunung Gedangan dan Kedundung, sementara Kecamatan Kranggan ada di Kelurahan Meri.
“Pengguatan pangan kita lebih ke mengoptimalkan lahan yang ada, baik lahan yang ada di sawah dengan bantuan pupuk dan bibit, maupun di lahan pekarangan melalui KWT-KWT yang ada dengan bantuan bibit cabai. Pendampingan sudah pasti, pestisida kalau ada kita support. Kita ada 11 PPL, insya Allah mencukupi,” tegasnya.
Satu Rumah, Satu Komoditas
Heka menambahkan, DKPP Kota Mojokerto berencana membuat program satu rumah, satu komoditas. Warga Kota Mojokerto bebas menanam komoditas sesuai keinginan dan pihaknya tidak membatasi jenis komoditas tersebut. Tujuannya sebagai upaya penguatan pangan di lingkungan masing-masing bukan untuk jual beli.
“Bagaimana masyarakat bisa makan dengan keterbatasan yang ada. Saya punya planing, satu rumah, satu komoditas. Apapun komoditasnya terserah karena keterbatasan lahan sehingga tidak bisa dikelompokkan satu komoditas saja, yang penting ada di depan rumah bisa sedikit memperkuat ketahanan pangan,” pungkasnya. [tin/beq]






