Ponorogo (beritajatim.com) – Sejak ratusan warga yang terdampak tanah gerak berada di pengungsian, Dinas Sosial dan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kabupaten Ponorogo langsung mendirikan dapur umum.
Dapur umum didirikan juga di area pengungsian, yakni berada di halaman taman kanak-kanak (TK) desa setempat. Selain untuk mencukupi kebutuhan makanan dari pengungsi, makanan di dapur umum juga untuk diberikan relawan yang ada di sana.
“Kita dari taruna siaga bencana (Tagana) Dinsos mulai melakukan layanan dapur umu pada hari Senin (27/02) lalu. Saat warga mengungsi di gedung TK Desa Tumpuk,” kata salah satu personel Tagana, Harjuni, Kamis (02/03/2023).
Dapur umum di pengungsian warga Desa Tumpuk Kecamatan Sawoo Ponorogo yang terdampak tanah gerak ini, setiap hari memasak sekitar 600 bungkus makanan. Sehingga tiap pagi 200 bungkus, siang 200 bungkus dan malam juga 200 bungkus. Menu makanannya pun bervariasi. Yang tidak kalah pentingnya sudah memenuhi gizi yang diperlukan.
“Menunya bervariasi, antara sarapan, makan siang dan makanan malam berbeda. Yang terpenting memenuhi gizinya,” katanya.
Personel Tagana yang diturunkan untuk memasak di dapur umum ini, sebanyak 12 orang per shipnya. Mereka mempunyai tugas masing-masing. Mulai menyiapkan nasinya, memasak nasi hingga lauk pauknya. Selain dari personel dari Tagana, juga ikut membantu relawan dari Banser maupun komunitas lainnya.
“Setiap shipnya ada 12 orang yang membuat makanan di dapur umum ini. Ada juga bantuan tenaga dari para relawan,” ungkap Harjuni.
[berita-terkait number=”3″ tag=”tanah-gerak”]
Kebutuhan untuk memasak di dapur umum ini, dianggarkan dari Dinsos P3A Ponorogo. Pada hari pertama pendirian dapur umum sempat terkendala belanja kebutuhan yang harus dimasak. Sebab, petugas harus turun dulu untuk berbelanja dan itu sangat jauh. Namun, setelah terjadi kendala itu, akhirnya ada yang menawarkan pembelian dengan memesan, dan barangnya diantar ke tempat dapur umum didirikan.
“Hari pertama petugas harus turun jauh ke pasar untuk membeli kebutuhan yang akan dimasak. Namun, kini bisa tinggal pesan, dan barang diantar ke tempat pengungsian,” katanya.
Kebutuhan beras, kata Harjuni setiap kali memasak atau untuk 200 bungkus pihaknya membutuhkan 20-25 kilogram beras. Dimasak dengan dua tungku yang cukup besar. Supaya bisa muat beras lebih banyak.
“Kita pakai 2 tungku yang besar. Sekali masak memerlukan 20-25 kilogram beras untuk keperluan 200 nasi bungkus,” pungkasnya. (end/ted)






