Surabaya (beritajatim.com) – Penyidik dari Unit Resmob Satreskrim Polrestabes Surabaya akan memanggil saksi baru usai ditemukan jika M. Rio Ferdinand (19) taruna muda yang tewas usai dianiaya oleh seniornya AJP (19) sempat dirawat di klinik Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Surabaya selama 1 jam sebelum dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Asrama Haji Sukolilo.
Hal tersebut disampaikan oleh Kanit Resmob Satreskrim Polrestabes Surabaya, AKP Zainul Abidin. Diwawancarai awak media, Abidin mengatakan langkah pemanggilan dokter Politeknik Perkapalan Surabaya tersebut diambil untuk mendalami peran senior lainnya.
“Update terbaru kami akan memanggil dokter klinik dari Poltekpel Surabaya yang sempat menangani korban sebelum dilarikan ke RS Asrama Haji,” ujar Abidin, Kamis (09/02/2023) malam.
Dari hasil pemeriksaan awal yang dilakukan oleh tim labfor terhadap jenazah korban, pukulan yang dilayangkan oleh tersangka membuat makanan yang ada di perut kembali keatas dan menyebabkan tersedak hingga korban sesak nafas dan meninggal dunia karena kekurangan oksigen.
“Pukulan di perut sebanyak 2 kali tersebut membuat korban tersungkur kedepan dan jatuh ke lantai. Itu yang membuat dagu dan bibir ada luka,” imbuh mantan Kanit Reskrim Polsek Sukolilo ini.
Para senior yang ada di lokasi lantas panik. Mereka membuat alasan jika korban terpeleset di kamar mandi dan menghubungi dokter di klinik Politeknik Pelayaran Surabaya. Di klinik tersebut, korban sempat dirawat selama satu jam. Karena kesadarannya terus menurun, dokter klinik lantas merujuk korban ke RS Asrama Haji. Pada pukul 21.10 WIB korban dinyatakan meninggal dunia dengan darah yang terus keluar dari mulutnya.
Abidin menegaskan, pihaknya tidak menutup kemungkinan akan melakukan pemanggilan kembali untuk saksi-saksi yang sudah diperiksa terlebih dahulu untuk memenuhi tahap gelar perkara.
Ia pun menegaskan jika penambahan tersangka dalam kasus penganiayaan di Politeknik Pelayaran Surabaya masih terbuka. Namun, saat ini pihaknya masih terus mendalami dan mengumpulkan bukti-bukti.
“Ya potensi ke tersangka ada, walau senior yang mengawal tidak melihat secara langsung pemukulan itu,” pungkasnya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”mahasiswa-poltekpel-meninggal”]
Sebelumnya diberitakan beritajatim.com, AJP (19) Tersangka penganiayaan di Politeknik Perkapalan (Poltekper) Surabaya yang menewaskan M. Rio Ferdinand (20), mengakui jika ia melayangkan dua pukulan telak tepat di perut sebelum taruna muda asal Mojokerto tersebut jatuh.
Kini, AJP harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dan mengubur mimpinya untuk menjadi taruna perkapalan.
Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Mirzal Maulana mengatakan dari pengakuan tersangka AJP, penganiayaan terhadap Rio bermula dari korban yang sedang berada di ruang makan pada Minggu (05/02/2023) sekitar pukul 19.30 WIB. Tak berselang lama, Rio disuruh oleh seniornya untuk menuju kamar mandi dengan alasan pembinaan. Rio yang masih junior hanya bisa menuruti permintaan seniornya.
“Perjalanan ke kamar mandi itu korban dikawal oleh empat seniornya. Didalam kamar mandi tersebut korban lantas dipukuli,” ujar Mirzal, Kamis (09/02/2022)
Mirzal menambahkan jika korban dipukul beberapa kali tubuhnya hingga terjatuh ke lantai. Akibat tindakan tersebut, korban mengalami luka di bibir bawah robek dan dagu. Pukulan telak terakhir dilayangkan oleh tersangka AJP dengan tangan kanan sebanyak dua kali sebelum korban tak sadarkan diri. (ang/ted)






