Surabaya (beritajatim.com) – Melihat potensi bahan herbal yang melimpah di Desa Kebontunggul, Kabupaten Mojokerto, tim dosen dari Universitas Surabaya (Ubaya) dan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) memutuskan untuk menciptakan inovasi dalam bentuk kopi celup herbal.
Produk kopi celup yang dinamakan Kopi Sedjati ini merupakan campuran antara bubuk daun jati dan bubuk kopi robusta, yang menawarkan manfaat antioksidan dan antiinflamasi. Dalam pengembangan produk ini, dilakukan kombinasi inovatif antara bubuk herbal dan bubuk kopi robusta.
Inovasi ini dikembangkan oleh Tjie Kok, Noviaty Kresna Darmasetiawan, Hany Mustikasari, Endang Widoeri Widyastuti, bersama dengan mahasiswa dari Ubaya dan UKWMS. Inovasi ini dibuat juga karena tingginya tingkat konsumsi kopi di Indonesia.
“Kopi biasanya dikenal untuk merangsang sistem saraf pusat. Namun, ‘Kopi Sedjati’ menggabungkan bahan herbal sehingga menawarkan manfaat kesehatan tambahan,” ujar Ketua Tim, Tjie Kok, Senin (9/9/2024).
Tjie Kok menambahkan, Kopi Sedjati memiliki manfaat antioksidan dan antiinflamasi yang membantu mencegah berbagai penyakit kronis yang terkait dengan peradangan, seperti aterosklerosis, rematik artritis, dan tumor.
“Kopi Sedjati ini mengandung bahan herbal yang memberikan aktivitas antioksidan jauh lebih tinggi dibandingkan kopi biasa. Sehingga, konsumen tidak hanya menikmati rasa kopi yang khas tetapi juga mendapatkan manfaat kesehatan secara langsung,” jelas Tjie Kok.

Uniknya, kopi ini dikemas dalam kantung seperti teh celup, yang memudahkan dan memberi kenyamanan kepada konsumen. Cara penyajiannya cukup dengan mencelupkan kantung dalam air mendidih selama beberapa menit, lalu mengeluarkan dan membuang ampas yang ada di dalam kantung.
Dengan cara ini, kopi tidak meninggalkan ampas di gelas. Produk Kopi Sedjati juga memiliki masa simpan hingga satu tahun selama kemasan tetap tertutup.
Inovasi Kopi Sedjati ini merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Desa Binaan Desa Herbal Kebontunggul 2024, yang difasilitasi dan didanai oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Ditjen Diktiristek, Kemdikbudristek.
Selain mengembangkan kopi celup, tim juga merancang strategi pengemasan dan pemasaran untuk meningkatkan pendapatan desa. [ipl/ian]






