Blitar (beritajatim.com) – Konsep Besar ditawarkan oleh Anna Luthfie. Seorang petani durian asal Blitar yang memiliki mimpi untuk bersama-sama meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat ekonomi menengah ke bawah.
Selama beberapa tahun terakhir, Anna Luthfie fokus untuk mengembangkan pertanian durian dengan konsep integrated farming. Konsep yang dimaksud ini adalah gabungan dari sub sektor horti, perikanan, perkebunan,peternakan dan juga kehutanan.
Konsep ini sudah diterapkan Anna Luthfie di pekarangan rumahnya Desa Ngaglik, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar. Dari pekarangan rumahnya itu, Anna Luthfie mampu menghasilkan buah durian premium bernilai jual tinggi.
Selain itu, Anna juga mampu menghasilkan ikan nila, patin dan lele dari kolam bioflok yang ada di perkebunan duriannya. Sejumlah produk turunan dari buah durian seperti jus durian hingga pecel durian pun mampu diproduksi oleh Anna Luthfie hanya dari satu pekarangan.
Bukan hanya itu, perkebunan duriannya juga dijadikan sebagai peternakan kambing. Yang tentunya jika kambing ini dijual maka keuntungan yang didapatkan oleh petani akan berlipat.
Konsep ini ditawarkan Anna Luthfie kepada semua masyarakat dan petani di Indonesia yang ingin keluar dari lingkaran kemiskinan.
“Fakta bahwa petani yang bekerja di sub sektor tanaman pangan walaupun dikasih harga HET-nya gabah kering Rp6.500 itu tidak bisa menyejahterakan ekonomi, kecuali petani itu masuk di sub sektor yang ke 2 yaitu hortikultura siapa itu yakni petani yang menanam bawang merah, cabai, melon, sayur dan durian baru di subsektor ini petani punya tabungan,” ucap Anna Luthfie.
Fakta di lapangan bahwa petani tanaman pangan saat ini kesulitan untuk memperoleh pendapatan berlebih. Tingginya biaya benih dan pupuk ditambah lagi fluktuasi harga membuat petani kesulitan keluar dari jeratan kemiskinan.
Konsep integrated farming sebenarnya bisa menjadi solusi agar petani bisa lebih sejahtera. Dengan konsep integrated farming ini para petani bisa mendapatkan pendapatan berlebih karena tidak bergantung pada satu sektor saja.
“Solusinya adalah konsep integrated farming yakni satu kawasan 10 produk dan basisnya adalah tanah pekarangan bukan tanah sawah, jadi kita memanfaatkan tanah pekarangan yang selama ini orang itu lebih useless,” bebernya.
Anna pun mengajak semua petani di Indonesia untuk menerapkan konsep integrated farming ini untuk keluar dari jeratan kemiskinan. Pria yang sempat menjabat sebagai Anggota DPRD Jawa Timur itu pun ingin bersama-sama petani untuk sejahtera bersama.
“Satu pohon durian musang king dalam 5 tahun ke depan kalau kemudian buahnya 30 minimal petani itu dapat Rp9 juta dalam satu bulan untuk 1 pohon, kalau cuma untuk umroh kira-kira kan cukup menanam 5 pohon, petani miskin itu bisa umroh karena menanam durian,” tegasnya.
Anna Luthfie pun mempersilahkan kepada semua pihak yang ingin belajar konsep integrated farming agar datang ke Republik Durian yang ada di Ngaglik Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar. Disana para petani dan warga bisa belajar serta berdiskusi mengenai konsep perkebunan dan pertanian durian yang terintegrasi dengan sektor lain. [owi/beq]






