Jember (beritajatim.com) – Kontingen Jember mendulang 20 medali emas, 17 perak, dan 45 perunggu dalam Pekan Olahraga Provinsi Jawa Timur VII, 25 Juni-3 Juli 2022. Perolehan medali terbanyak berasal dari cabor drum band dengan enam emas dan satu perunggu.
Sementara atletik hanya menyumbangkan satu emas dan satu perak. Sedangkan cabor renang sama sekali tak menyumbang medali.
Kegagalan atlet cabang olahraga atletik dan renang mendulang medali sebanyak-banyaknya ini mendapat sorotan dari parlemen Jember.
“Kita kemalingan. Ada beberapa cabor yang harusnya jadi sasaran karena bertumpuknya medali, namun masih belum kita tata betul. Di atletik, ada emas bertumpuk, tapi sepi,” kata Ketua Komisi D DPRD Jember Hafidi, dalam rapat evaluasi Porprov, di ruang parlemen Jember, Senin (18/7/2022).
Hafidi berharap keberhasilan kontingen Jember menduduki peringkat sembilan klasemen peraih medali Porprov memang berdasarkan perencanaan yang matang. Bukan semata karena keberuntungan.
“Kita semua bekerja dengan perencanaan program dan target Perencanaannya seperti apa?” katanya.
Sucipto, anggota Komisi D dari Golkar, melihat posisi Jember di peringkat sembilan perolehan medali sebagai sebuah kegagalan. “Target tiga besar namun meleset luar biasa ke rangking sembilan. Bupati berharap Jember juara umum. Saya katakan waktu itu tidak mungkin Jember juara umum karena kondisi anggaran dan lain sebagainya. Ini kesalahannya di mana beberapa atlet gagal memperoleh medali emas,” katanya.
Ardi Pujo Prabowo, anggota Komisi D dari Gerindra, melihat keberhasilan kontingen Jember menembus posisi sembilan lebih dikarenakan kegigihan orang tua atlet. “Walau pun tidak ada anggaran di Dinas Pemuda dan Olahraga, mereka tetap membina atlet. Kemarin bukan murni karena pembinaan Dispora dan KONI, tapi pembinaan orang tua. Ke depan ini harus kita tata betul,” katanya.
Menanggapi kritik itu, Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia Jember Sutikno mengatakan, target perolehan medali kontingen Jember dalam Porprov Jatim VII adalah 22 persen dari seluruh medali. “Itu hasil pemetaan. Ini bukan hasil dadakan. Kami tidak meleset dari target, meski kita tidak bisa memenuhi target bupati untuk juara umum,” katanya.
Menurut Sutikno, susah untuk menggeser tujuh daerah yang selalu menempati posisi tujuh besar perolehan medali, yakni Kota Surabaya, Kota Malang, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Malang, Kota Kediri, Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Gresik. “Kita masih belum masuk kelompok elite ini.” katanya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”porprov-jatim”]
Sutikno sebenarnya berharap bisa menduduki peringkat delapan. Namun ternyata Jember kalah satu poin dari Lumajang. “Kita 159 poin. Lumajang 160 poin. Di Lumajang, dana pembinaan untuk KONI sudah mencapai Rp 24 miliar selama tiga tahun anggaran APBD. Kita baru satu tahun anggaran, hanya Rp 3 miliar untuk pembinaan. Alhamdulillah, kita hanya kalah satu poin. Kalau saja kita tidak gagal di catur, target kita menggeser Lumajang selesai. Saya pikir catur bisa mendapat tiga emas, ternyata satu emas. Tapi saya tetap menghargai semua cabor,” katanya.
Sutikno tidak ingin menyalahkan para pengurus cabor. Apalagi target perolehan medali berdasarkan pemetaan telah tercapai. “Terlepas ada yang meleset di item cabornya. Tapi tidak termasuk atletik. Dari awal kami sudah memetakan, muncul sepuluh cabor unggulan dari 36 cabor yang kita ikuti. Atletik dan renang tidak masuk kalkulasi sama sekali,” katanya.
Menurut Sutikno, Jember tidak memiliki stok atlet untuk atletik dan renang. Sebagian atlet atletik Jember lebih dulu pindah ke daerah lain, di antaranya ke Kediri.
“Mungkin karena di sana pembinaannya lebih bagus, beasiswa jalan, dan kesejahteraan lebih bagus. Kami akan benahi ini. Kami akan lekas kerjakan,” katanya.
Khusus untuk atletik, KONI Jember ingin melibatkan partisipasi masyarakat dalam memunculkan atlet-atlet berbakat. “Dulu waktu kita masih muda, ada lomba maraton di sejumlah kecamatan. Cara ini akan saya pakai, d beberapa titik akan saya lombakan. Pengurus cabor atletik akan saya kasih pekerjaan rumah seperti itu. Dulu setiap 17 Agustus, ada lomba lari. Belakangan tidak ada,” kata Sutikno.
Sutikno ingin memaksimalkan lintasan lari di Stadion Jember Sport Garden yang dibangun dengan biaya Rp 4 miliar. “Tidak semua daerah punya. Dari situ nanti kita dapat kader lagi,” katanya.
Nasib serupa dialami cabor renang. “Kita tidak punya stok atlet di renang. Jadi kita membangun venue atletik dan memperbaiki kolam renang kemarin, hanya untuk memberi fasilitas bagi atlet luar Jember untuk meraih medali. Kita tidak ada medali,” kata Sutikno. [wir]






