Surabaya (beritajatim.com) – Konflik Timur Tengah memicu fenomena psikologis ‘trauma jarak jauh’ bagi publik global. Intensitas informasi perang di media massa membentuk pola kecemasan kolektif yang memengaruhi kesehatan mental masyarakat luas.
Dosen Bimbingan Konseling Islam UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA), Unun Achmad Alimin, mengungkap fenomena ini dalam diskusi Rumpun di Surabaya. Ia menilai paparan informasi kekerasan terus-menerus memicu respons psikologis beragam.
“Saat publik terus menerima informasi perang, respons psikologis akan terbentuk secara beragam. Ini memunculkan pola psikologi publik tertentu,” ujar Unun dalam diskusi bertajuk Psikologi Publik, Kamis (12/6/2026).
Unun membagi kecenderungan masyarakat ke dalam empat kategori. Antara lain, fanatik, stres, apatis, dan empatis. Kelompok fanatik cenderung melihat konflik secara hitam-putih tanpa mempertimbangkan kompleksitas situasi yang sebenarnya terjadi di lapangan.
“Kelompok fanatik biasanya merespons secara emosional dengan dukungan total terhadap salah satu pihak. Mereka sering mengabaikan realitas konflik yang jauh lebih rumit,” jelas akademisi asal Mojokerto tersebut.
Sementara itu, kelompok yang mengalami stres merasakan kecemasan berlebih akibat paparan berita. Mereka dihantui ketakutan kolektif bahwa eskalasi kekerasan di Timur Tengah akan meluas menjadi perang global.
Sebaliknya, kelompok apatis memilih tidak terlibat emosional karena merasa konflik terlalu jauh. Di sisi lain, kelompok empatis merespons dengan aksi kemanusiaan dan solidaritas nyata terhadap para korban perang.
Diskusi lintas disiplin ini juga menyinggung aspek ekonomi global di balik ketegangan tersebut. Logika bisnis para pemimpin dunia dianggap menjadi faktor penghambat pecahnya perang dunia ketiga dalam waktu dekat.
“Banyak pemimpin dunia berlatar belakang bisnis. Dalam logika mereka, perang berskala global justru akan merugikan stabilitas ekonomi secara menyeluruh,” ungkap akademisi lainnya, Bima Rafly.
Unun menekankan ancaman nyata berupa trauma jarak jauh dari konsumsi informasi digital. Masyarakat merasakan kemarahan atau kecemasan mendalam terhadap peristiwa yang secara geografis tidak bersentuhan langsung dengan mereka.
“Paparan informasi konflik yang terus-menerus dapat memengaruhi kesehatan psikologis publik. Masyarakat perlu menyeimbangkan empati dengan kemampuan menjaga kejernihan berpikir,” tandas Unun. [ipl/suf]






