Malang (beritajatim.com) – Komunitas Aksara Bhinneka yang diinisiasi sejumlah mahasiswa pecinta pentas seni di kota Malang mengadakan acara bersama ‘Kami tak Ingin Jadi Narcissus’ .
Acara tersebut terlaksana atas kerjasama Komunitas Aksara Bhinneka yang bekerja dengan Trans Studio Mini Malang.
Acara yang berlangsung di Trans Studio Mini Malang pada Sabtu (21/01/2023) malam itu menyuguhkan beberapa penampilan. Ada teater, menyanyi, monolog, dan pembacaan puisi yang ditampilkan pegiat seni dari tiap komunitas maupun instansi pendidikan.
Bayu Fitrah Kurniawan, founder Komunitas Aksara Bhinneka menjelaskan tema yang dipilih berkaitan branding komunitas yang masih sangat muda agar lebih dikenal. Dia ingin memperkenalkan bahwa Aksara Bhinneka khususnya, dan kota Malang maupun Batu juga punya talent-talent yang bagus.
“Kami perlu unjuk gigi atas apa yang kami bisa dan miliki, kami perlu mensyukuri itu, bukan untuk disombongkan. Kami ingin komunitas ini memiliki nama baik. Tapi kami tak ingin seperti Narcissus yang terkutuk mencintai dirinya sendiri. Sebagus apapun kemampuan seseorang, tak akan pernah ada yang sempurna, di atas langit masih ada langit. Nama baik ini untuk disyukuri dan diasah lagi, bukan kesombongan,” ujarnya.
Acara tersebut juga bermaksud menjalin hubungan baik dengan komunitas lain yang telah diberi panggung. Komunitas dan institusi yang diundang meliputi Himaprodi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia Unisma, Rumah Ilir, Teater Bangkit, Teater Ruci, Gerilya Literasi, UKM-Penulis Universitas Negeri Malang (UM), Griya Sastra Puisi UM, Unpad Kolektif, dan LPM Fenomena Unisma.
[berita-terkait number=”3″ tag=”seniman-malang”]
Bayu menceritakan selama acara berlangsung selain peserta menikmati seni pertunjukan, ada juga suguhan kemegahan desain interior dan wahana di dalam Trans Studio Mini Malang. Dia menjelaskan jika panitia juga menyiapkan penghargaan bagi penampil dan mengadakan kuis berhadiah voucher gratis bermain di Trans Studio Mini untuk para peserta.
Menurut Amir selaku Ketua pelaksana pentas seni ini diharapkan agar masyarakat umum lebih mengenal tentang seni pertunjukan. “Kami tak hanya ingin pesona, ketenaran, keindahan atau nama baik, kami tak ingin berakhir seperti tokoh Narcissus dalam mitologi Yunani,” kata Amir.

Eka Isnadya, salah satu peserta, merasa kagum dengan acara yang diadakan dari komunitas Aksara Bhinneka.
“Ini baru pertama kali liat pementasannya Aksara Bhinneka dan gak nyangka kalo pementasannya bakalan sekeren itu, salut sama tim nya yang kompak dan nyiapin yang terbaik untuk pentas akhirnya penonton bisa terhibur,” katanya selepas acara. (dan/ted)






