Pacitan (beritajatim.com) – Industri rumahan kolong klitik di Desa Cangkring, Kecamatan Ngadirojo, Pacitan menjadi penopang ekonomi warga setempat. Camilan renyah berbahan dasar ketela ini tidak hanya diminati pasar lokal, tetapi juga mulai menembus pasar modern hingga luar daerah. Di balik kelezatannya, kolong klitik menyerap ratusan tenaga kerja dari empat dusun, yakni Dusun Tegal Arum, Seloharjo, Salamrejo, dan Sidorejo.
Harmini, salah satu pengrajin kolong klitik dari industri “Sumber Rejeki,” menyebutkan bahwa dalam satu kali produksi dibutuhkan hingga 4 kuintal ketela yang menghasilkan sekitar 180 kilogram kolong. “Paling banyak tenaga dibutuhkan saat membentuk kolong dan mengupas ketela,” tuturnya jumat (11/4/2025).
Kolong klitik memiliki rasa gurih dan renyah, sehingga pemasaran tidak lagi menjadi masalah bagi Harmini. Para tengkulak dari pasar daerah serta toko oleh-oleh di Pacitan selalu menanti pasokan kolong klitik darinya.
Untuk memperluas pasar, Pemerintah Desa Cangkring mulai melakukan branding dengan nama CK Snack (Cangkring Snack). Langkah ini membuahkan hasil. Jika sebelumnya hanya dijual di pasar dan toko oleh-oleh Pacitan, kini kolong klitik juga merambah minimarket, supermarket, dan agen di Surabaya.
Kepala Desa Cangkring, Sugiyono, menjelaskan bahwa terdapat 19 industri rumahan pembuat kolong klitik yang tersebar di desanya. “Melalui CK Snack, kami ingin menjadikan kolong sebagai ikon ekonomi desa,” ujarnya.
Keberadaan industri ini bukan hanya menghidupkan para pelaku usaha, tetapi juga membuka lapangan kerja yang luas. Kini, kolong klitik bukan sekadar camilan, tapi simbol kebangkitan ekonomi lokal. (tri/kun)






