Banyuwangi (beritajatim.com) – Pemerintah pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mempercepat penyelesaian pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di kawasan pesisir Plengsengan Ancol, Kelurahan Lateng, Banyuwangi. Proyek strategis nasional era Presiden Prabowo Subianto ini telah mencapai progres fisik 97 persen dan kini fokus pada tahap penyempurnaan akhir.
Lokasi KNMP yang sangat strategis berada tidak jauh dari pusat kuliner hasil olahan laut Fish Market di Kampung Mandar yang telah menjadi jujukan favorit wisatawan. Kehadiran kawasan nelayan modern ini diproyeksikan bakal memperkuat ekosistem pariwisata bahari di kabupaten berjuluk The Sunrise of Java tersebut.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyatakan bahwa kehadiran infrastruktur modern ini kian melengkapi fasilitas publik yang mendukung sektor ekonomi kreatif dan kuliner lokal. Ia memberikan apresiasi tinggi kepada pemerintah pusat karena konsisten memberikan dukungan bagi pengembangan pariwisata yang berbasis pada pemberdayaan nelayan.
“Kehadiran Kampung Nelayan Merah Putih ini kian menambah daya tarik pusat kuliner seafood di Banyuwangi. Terima kasih pada pemerintah pusat yang terus mendukung pariwisata Banyuwangi,” ujar Ipuk saat meninjau lokasi pembangunan.
Pengerjaan fisik KNMP yang dimulai sejak September 2025 tersebut kini menyisakan tahapan penataan kawasan pendukung agar lebih representatif bagi pengunjung. Bangunan-bangunan di dalam kawasan ini secara unik mengangkat arsitektur rumah adat Suku Osing sebagai identitas visual utama yang menarik.
Enam unit bangunan utama yang berdiri mengadopsi struktur khas suku asli Banyuwangi dengan sentuhan ornamen batik motif Gajah Oling pada beberapa sudutnya. Perpaduan antara gaya tradisional dan fasilitas modern ini memberikan karakter kuat sekaligus mempertegas kearifan lokal masyarakat pesisir Lateng.
Kawasan KNMP Banyuwangi ini telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas vital seperti dermaga sandar perahu, lokasi pendaratan ikan, hingga stasiun pengisian bahan bakar khusus nelayan. Selain itu, tersedia pula balai pertemuan, pabrik es, serta unit pengolahan hasil laut yang dirancang terintegrasi dalam satu kawasan.
“Kampung nelayan moderen ini dirancang terintegrasi. Selain menjadi tempat aktivitas kampung nelayan pada umumnya, juga dirancang menjadi daya tarik baru bagi sektor pariwisata Banyuwangi. Melalui konsep tersebut, hasil tangkapan nelayan diharapkan memiliki nilai tambah sebelum dipasarkan,” tutur Ipuk menambahkan.
Kepala Dinas Perikanan Banyuwangi, Suryono Bintang Samudra, menjelaskan bahwa pembangunan di Kelurahan Lateng ini merupakan bagian dari program prioritas di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo. Banyuwangi terpilih menjadi salah satu dari 100 lokasi awal pengembangan kampung nelayan terpadu yang ada di seluruh Indonesia.
“Program ini tidak sekadar menghadirkan infrastruktur fisik, tetapi diarahkan untuk membangun ekosistem ekonomi pesisir yang berkelanjutan dan terintegrasi,” jelas Suryono. Ia optimistis bahwa KNMP akan menjadi simpul pertumbuhan ekonomi baru yang memberikan dampak ekonomi langsung bagi nelayan setempat.
Kawasan ini sengaja dilengkapi dengan sentra kuliner dan ruang pemberdayaan nelayan agar seluruh potensi sumber daya laut dapat dikelola dengan lebih maksimal. Menurut Suryono, integrasi antara produksi hasil laut dan sektor jasa kuliner akan menciptakan perputaran uang yang lebih cepat di tingkat bawah.
“Kawasan ini kami lengkapi dengan fasilitas pengolahan ikan, sentra kuliner, hingga ruang pemberdayaan nelayan agar benar-benar memberi manfaat langsung,” ujarnya. Setelah seluruh proses fisik tuntas, pengelolaan aset akan segera diserahkan dari pemerintah pusat kepada pihak daerah.
Tahapan selanjutnya setelah berita acara serah terima (BAST) adalah penunjukan pengelola kawasan yang melibatkan unsur masyarakat nelayan lokal secara aktif. “Setelah BAST, aset akan kami kelola melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang sudah dibentuk,” tandas Suryono. [alr/beq]







