Selama ini, Raja Ampat nun jauh di angan Frenix Ardella. Mahasiswi Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember itu selama ini hanya mendengar nama Raja Ampat yang identik dengan keindahan nan eksotik.
Namun sejak 25 Juli 2025 hingga sebulan ke depan, perempuan kelahiran Jombang ini akan menjalani kuliah kerja nyata di Desa Warimak, Kecamatan Waigeo Barat, Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Daya. Dia adalah satu dari 20 orang mahasiswa yang lolos seleksi program KKN yang bekerja sama dengan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal.
“Bagi saya KKN ini bukan hanya untuk pengalaman belajar, tapi juga kesempatan luar biasa untuk mengabdi dan berkontribusi kepada negeri,” kata Frenix.
Bersama sembilan orang kawan dari sejumlah fakultas di Unej, Frenix akan menggarap produk unggulan kepiting asap. Dia berharap bisa mengembangkan potensi lokal, mulai dari penangkapan dan budidata kepiting bakau, pengolahan, hingga pemasarannya.
“Selain itu, saya juga ingin membangun pemahaman baru tentang pentingnya kolaborasi lintas sektor dan bagaimana potensi daerah terpencil bisa diangkat secara berkelanjutan,” kata Frenix.
Sebelum berangkat, Frenix sudah mempersiapkan diri dengan melakukan riset mendalam tentang kondisi geografis, sosial-budaya, dan potensi lokal kampung tujuan. Tak hanya perbekalan logistik, dia juga memperkuat mental dan fisik.
Frenix sadar bakal menghadapi tantangan yang tidak mudah di sana. Tim yang dipimpinnya sudah mengantisipasi sejumlah kemungkinan terburuk yang bisa muncul, seperti kondisi cuaca dan transportasi, masalah kesehatan dan kecelakaan, gagalnya program karena tidak sesuai kebutuhan masyarakat, gangguan teknis dokumentasi atau hilangnya data, tidak adanya dukungan dari pemerintah desa atau mitra lokal hingga konflik internal tim.
“Dari awal saya tekankan tim kami, kalau tidak boleh berharap kenyamanan. Kemampuan adaptif dan disiplin yang resilien di tengah keterbatasan, harus kami tanamkan ketika pada saat yang bersamaan kami harus menjalankan program,” kata Frenix.
Tentu saja, Frenix dan kawan-kawan juga membuat lima harapan terbaik. Dia mengirimkan daftar harapan terbaik itu kepada Beritajatim.com.
1. Diterima hangat oleh masyarakat dan bisa menjadi keluarga baru
2. Program berjalan lancar dan berdampak nyata
3. Dokumentasi program bisa viral dan menginspirasi
4. Ada kelanjutan dari kegiatan setelah program selesai (sustainability)
5. Terbangun jejaring untuk masa depan (networking dengan tokoh lokal, dosen, atau sponsor)
Namun ada satu harapan terbaik yang tidak dicantumkan di sana. Frenix akan berulang tahun ke-21 pada 13 Agustus nanti. Bertepatan saat mereka tinggal di Raja Ampat selama kurang lebih tiga pekan.
Apakah yang menjadi harapan terbaik Frenix di hari istimewa itu? Kepiting asap yang lezat dan gurih mungkin?
“Sebenarnya, tahun ini saya tidak meminta perayaan yang megah, kado yang mewah, atau ucapan yang ramai di media sosial,” kata Frenix.
Bagi Frenix, merayakan ulang tahun di Raja Ampat saat KKN sangat istimewa. Ini momentum sekali seumur hidup.
“asanya unik sekaligus bermakna. Ulang tahun kali ini akan berbeda dari biasanya, karena saya tidak hanya bertambah usia, tapi juga bertambah pengalaman, tantangan, dan pelajaran hidup,” kata Frenix.
Harapannya sederhana: bisa benar-benar hadir untuk orang-orang di sekitarnya, hadir untuk dirinya sendiri, dan hadir untuk setiap kesempatan yang datang, sekecil apa pun itu.
“Karena mungkin, ulang tahun terbaik bukan tentang apa yang kita terima, tapi tentang bagaimana kita memilih untuk memberi, menyayangi, dan bertumbuh,” kata Frenix. [wir]






