Jakarta (beritajatim.com) – Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) menegaskan adanya upaya pengaburan fakta terkait bahaya Bisfenol A (BPA), yang dinilai berpotensi membingungkan masyarakat. Hal ini mencuat setelah sejumlah pakar menyatakan bahwa BPA aman, meski pernyataan tersebut tidak didukung oleh riset ilmiah yang kredibel.
“Kami mencermati adanya upaya pengaburan fakta yang sistematis di berbagai media, baik media massa maupun media sosial, terkait risiko bahaya BPA pada galon guna ulang berbahan polikarbonat. Ada pakar yang menyebut BPA itu aman, yang akhirnya membingungkan konsumen,” ujar Ketua KKI, David Tobing.
Padahal, pemerintah melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah mewajibkan pencantuman label peringatan bahaya BPA pada galon guna ulang dari plastik jenis polikarbonat. Langkah ini sejalan dengan kebijakan di berbagai negara seperti Kanada, Amerika Serikat, Uni Eropa, Australia, Malaysia, China, dan Jepang yang membatasi atau bahkan melarang penggunaan BPA dalam produk tertentu.
David menyoroti bahwa peluruhan BPA pada galon guna ulang sering kali terjadi akibat proses pasca-produksi yang tidak sesuai standar.
“Kemasan polikarbonat yang terpapar sinar matahari langsung dapat meningkatkan risiko peluruhan BPA ke dalam air. Selain itu, penggunaan deterjen dan cara pencucian yang tidak tepat di depot isi ulang juga menjadi faktor risiko,” tambahnya.
BPOM sendiri telah melakukan pemeriksaan terhadap kadar BPA pada galon polikarbonat di sejumlah kota di Indonesia selama periode 2021-2022. Hasilnya menunjukkan bahwa kadar BPA di beberapa daerah, seperti Medan, Bandung, Jakarta, Manado, Banda Aceh, dan Aceh Tengah, melebihi ambang batas aman.
KKI mendukung penuh regulasi BPOM sebagai langkah perlindungan kesehatan masyarakat, terutama bagi anak-anak dan keluarga yang rutin mengonsumsi air minum dari galon polikarbonat.
“Peluruhan senyawa BPA dapat berdampak buruk pada kesehatan. Sebagai organisasi perlindungan konsumen, kami mendorong kesadaran masyarakat untuk lebih kritis terhadap produk yang mereka gunakan,” tegas David.
Untuk mengatasi simpang siur informasi terkait BPA, KKI tengah melakukan riset independen yang bertujuan memberikan edukasi kepada masyarakat. “Saat ini kami sedang melakukan riset. Hasilnya akan kami publikasikan untuk memberi pencerahan kepada publik tentang isu BPA yang penting ini,” kata David.
KKI menekankan pentingnya transparansi informasi terkait risiko BPA, baik dari pemerintah, produsen, maupun pakar. Dengan informasi yang jelas dan berbasis riset ilmiah, konsumen dapat membuat keputusan yang lebih bijak dalam memilih produk yang aman bagi kesehatan. KKI juga mengajak masyarakat untuk mendukung regulasi BPOM demi perlindungan jangka panjang terhadap kesehatan keluarga. [beq]






