Apa perlunya merayakan Hari Buruh Internasional 1 Mei 2025 dengan puisi?
Mungkin karena setiap perjuangan membutuhkan kata-kata, dan tak ada kesadaran yang dibentuk tanpa kata-kata, maka kita memerlukan puisi. Tak selalu syahdu. Tak senantiasa berbisik. Terkadang justru harus berteriak di hadapan nurani yang pekak dan kepatuhan bisu yang diternak.
Saat negara sibuk membuat slogan untuk menciptakan wajah relasinya dengan pengusaha dan kelas pekerja, puisi membantah setiap kehendak untuk mendominasi.
Puisi menampik doktrin, dan saya kira keduanya memang ditakdirkan untuk bertumbukan. Setiap doktrin menampik tafsir yang berbeda. Hanya ada tafsir dari mereka yang dianggap memiliki otoritas ideologis dan politik.
Sementara kita tahu, setiap penulis puisi ‘mati’ di hadapan kemerdekaan publik. Puisi tak memerlukan otoritas tunggal untuk ditafsirkan. Setiap interpretasi berdiri tegak merdeka di hadapan puisi itu sendiri.
Dan boleh jadi, mungkin, ya mungkin, karena itu Wiji Thukul, seorang pria cadel yang mahir menulis puisi yang berapi-api tentang perlawanan, dibenci penguasa. Karena pada dasarnya kekuasaan tidak menyukai kata-kata yang tidak bisa dikontrol. Atau tepatnya membenci kata-kata dari pikiran yang tak bisa dikendalikan.
Kata-kata bisa sesejuk air. Kata-kata bisa menyulut seperti bensin.
Puisi bisa menjadi pisau dapur untuk mengiris bawang, atau menjadi pedang untuk mempertahankan pikiran-pikiran merdeka yang menolak untuk dibuang.
Pada akhirnya ideologi memang merepresi tubuh untuk patuh. Namun puisi membebaskannya melalui kata-kata yang diproduksi dari jiwa-jiwa yang merdeka, seperti yang dilakukan Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Darmono, Joko Pinurbo, dan tentu saja Wiji Thukul.
***
Internasionale (Karya Goenawan Mohamad)
Di sebuah perpustakaan
di sebuah penderitaan
seorang-orang tua
resah tersandar ke kaca meja. Ia tak bermahkota
dan aku tak mengenalnya,
tapi ku beri ia tabik
dan kami pun ke jalan-jalan raya.
Lihatlah, Karl, kemerdekaan ini diperjuangkan
dengan empat lobang kantong
yang pipih kosong
dan seorang anak yang menggantung mati kelaparan.
Hari itu kita masih ingat: tulisan cakar-ayam
di sebuah buku lusuh
yang ditinggalkan orang:
Bersatulah buruh dunia, bersatulah!
Kita yang dimiskinkan…
Kita melihat jam besar di dinding pabrik itu
gemetar
dan buruh-buruh yang pucat
penyap tersandar.
Kemarin tidak pernah kita rancangkan kehidupan
tapi hari ini adalah lain:
Dunia telah terlepas dari hambatan yang abadi, terasing
dari hukum hari tadi.
Daulat telah diserahkan
kepada kehidupan
dan bumi adalah takhta maha baik
yang dimenangkan.
Banyak lagi yang akan dikerjakan
setelah sepanjang jalan
orang bertempur
tanpa pembunuhan
Biarlah pasukan ini tersaruk-saruk, dalam lumpur
dan menembak. Di sana tak ada Musuh dan Dendam.
Tinggal penyaliban.
Sebab kita tak akan bikin pahlawan-pahlawan
dan prajurit timah
dalam impian.
Sebab jumlah kita banyak dan kapan saja
manusia bangkit tiap hari.
Hari ini terkabar
seorang raja turun dari takhta
menyebrangi selat, dan memacu kudanya ke angkasa.
Hari ini baginya tidak ada lagi remah roti:
tinggal perdamaian ditawarkan dari langit
ke atas tanah, bumi yang berdandan
Rakyat pun kini bersembahyang di dalam hari
sebelum Tuhan
kita arcakan.
Dan daun-daun alam yang runtuh ke ubun-ubunnya
memahkotainya
dalam Cinta.
Esok hari mungkin salah seorang dari kita
berkhianat
dan merancangkan Kiamat lagi. Nanti malam
ia akan merangkak ke jendela, membunuh kita.
Tapi kita masih punya anak-anak, beribu generasi:
hakim-hakim kita yang akan melemparkan kita
dalam peti museum
Tidak apa.
Karena mereka adalah setia, sedang kita tak lagi setia
dan tak lagi bisa rindu.
Di dalam mausoleumnya Stalin pun rindu
dan menggaritkan kakinya menulis sajak.
Di luar kaca ia melihat bumi, bumi yang bersalju:
sepi, sepi … tak beranjak.
Tapi adakah ia mengerti
bahwa ia telah terlambat semalam tadi
sebab di pagi itu
serombongan anak-anak muda
datang mengangkat tubuhnya, dari sini:
dan sajak di hatinya
tak pernah diselesaikan
seperti Fir’aun
di tengah Laut Merah
tak juga selesai: Ilahi, Ilahi, Ilahi …
Maka marilah bicara dari kesunyian dan kelaparan
karena keduanyalah senantiasa
milik kita.
Sebelum terlambat.
Seperti di pagi ini
ketika seseorang membacakan sajak-sajak
bagi anak-anak muda di dunia,
karena mereka adalah setia, wakil sunyi dan lapar
semesta kita.
Demikianlah dahulu
ketika aku bertemu
dengan seseorang-orang tua
yang resah tersandar ke kaca meja, yang tak bermahkota
tapi kuberi tabik
sebagai sahabatnya.
1964
***
Sehari saja kawan (Puisi Wiji Thukul)
Satu kawan bawa tiga kawan
masing-masing nggandeng lima kawan
sudah berapa kita punya kawan
Satu kawan bawa tiga kawan
masing-masing bawa lima kawan
kalau kita satu pabrik bayangkan kawan
Kalau kita satu hati kawan
satu tuntutan bersatu suara
satu pabrik satu kekuatan
kita tak mimpi kawan!
Kalau satu pabrik bersatu hati
mogok dengan seratus poster
tiga hari tiga malam
kenapa tidak kawan
Kalau satu pabrik satu serikat buruh
bersatu hati
mogok bersama sepuluh daerah
sehari saja kawan
sehari saja kawan
Sehari saja kawan
kalau kita yang berjuta-juta
bersatu hati mogok
maka kapas tetap terwujud kapas
karena mesin pintal akan mati
kapas akan tetap berwujud kapas
tidak akan berwujud menjadi kain
serupa pelangi pabrik akan lumpuh mati
Juga jalan-jalan
anak-anak tak pergi sekolah
karena tak ada bis
langit pun akan sunyi
karena mesin pesawat terbang tak berputar
karena lapangan terbang lumpuh mati
Sehari saja kawan
kalau kita mogok kerja
dan menyanyi dalam satu barisan
sehari saja kawan
Kapitalis pasti kelabakan
***
Lembur (Puisi Joko Pinurbo)
Tuhan menyala
pada mata ngantuk
buruh-buruh
yang lembur kerja.
***
Dongeng Marsinah (Puisi Sapardi Djoko Darmono)
/1/
Marsinah buruh pabrik arloji,
mengurus presisi:
merakit jarum, sekrup, dan roda gigi;
waktu memang tak pernah kompromi,
ia sangat cermat dan pasti.
Marsinah itu arloji sejati,
tak lelah berdetak
memintal kefanaan
yang abadi:
“kami ini tak banyak kehendak,
sekedar hidup layak,
sebutir nasi.”
/2/
Marsinah, kita tahu, tak bersenjata,
ia hanya suka merebus kata
sampai mendidih,
lalu meluap ke mana-mana.
“Ia suka berpikir,” kata Siapa,
“itu sangat berbahaya.”
Marsinah tak ingin menyulut api,
ia hanya memutar jarum arloji
agar sesuai dengan matahari.
“Ia tahu hakikat waktu,” kata Siapa,
“dan harus dikembalikan
ke asalnya, debu.”
/3/
Di hari baik bulan baik,
Marsinah dijemput di rumah tumpangan
untuk suatu perhelatan.
Ia diantar ke rumah Siapa,
ia disekap di ruang pengap,
ia diikat ke kursi;
mereka kira waktu bisa disumpal
agar lenkingan detiknya
tidak kedengaran lagi.
Ia tidak diberi air,
ia tidak diberi nasi;
detik pun gerah
berloncatan ke sana ke mari.
Dalam perhelatan itu,
kepalanya ditetak,
selangkangnya diacak-acak,
dan tubuhnya dibirulebamkan
dengan besi batangan.
Detik pun tergeletak
Marsinah pun abadi.
/4/
Di hari baik bulan baik,
tangis tak pantas.
Angin dan debu jalan,
klakson dan asap knalpot,
mengiringkan jenazahnya ke Nganjuk.
Semak-semak yang tak terurus
dan tak pernah ambil peduli,
meregang waktu bersaksi:
Marsinah diseret
dan dicampakkan —
sempurna, sendiri.
Pangeran, apakah sebenarnya
inti kekejaman? Apakah sebenarnya
sumber keserakahan? Apakah sebenarnya
azas kekuasaan? Dan apakah sebenarnya
hakikat kemanusiaan, Pangeran?
Apakah ini? Apakah itu?
Duh Gusti, apakah pula
makna pertanyaan?
/5/
“Saya ini Marsinah,
buruh pabrik arloji.
Ini sorga, bukan? Jangan saya diusir
ke dunia lagi; jangan saya dikirim
ke neraka itu lagi.”
(Malaikat tak suka banyak berkata,
ia sudah paham maksudnya.)
“apa sebaiknya menggelinding saja
bagai bola sodok,
bagai roda pedati?”
(Malaikat tak suka banyak berkata,
ia biarkan gerbang terbuka.)
“Saya ini Marsinah, saya tak mengenal
wanita berotot,
yang mengepalkan tangan,
yang tampangnya garang
di poster-poster itu;
saya tidak pernah jadi perhatian
dalam upacara, dan tidak tahu
harga sebuah lencana.”
(Malaikat tak suka banyak berkata,
tapi lihat, ia seperti terluka.)
/6/
Marsinah itu arloji sejati,
melingkar di pergelangan
tangan kita ini;
dirabanya denyut nadi kita,
dan diingatkannya
agar belajar memahami
hakikat presisi.
Kita tatap wajahnya
setiap hari pergi dan pulang kerja,
kita rasakan detak-detiknya
di setiap getaran kata.
Marsinah itu arloji sejati,
melingkar di pergelangan
tangan kita ini.
(1993-1996) [wir]






